Pencarian 'Insomnia' di Google Naik Dratis saat Pandemi

Pencarian 'Insomnia' di Google Naik Dratis saat Pandemi

Aisyah Kamaliah - detikInet
Rabu, 17 Mar 2021 11:01 WIB
Ilustrasi seorang wanita yang tidak bisa tidur dan akhirnya tetap terjaga sampai pagi
Pencarian kata 'insomnia' meningkat setelah adanya pandemi. Foto: Thinkstock
Jakarta -

Pencarian 'insomnia' di Google naik drastis setelah datangnya pandemi COVID-19. Apakah kamu salah satu orang yang mencari kata kunci tersebut dan mengalaminya?

dr Andreas Prasadja RPSGT dari Snoring & Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran mengatakan dalam acara Menyambut Hari Tidur Sedunia (World Sleep Day) 2021 dari Royal Philips, bahwa kerja di rumah dengan lingkungan yang monoton menjadi salah satu pencetus masalah ini saat pandemi.

"Kerja di rumah dengan lingkungan dan aktivitas yang begitu-begitu saja, akan banyak muncul gangguan-gangguan tidur. Buktinya, pencarian Google untuk kata 'insomnia' selama pandemi meningkat menurut Journal of Clinical Sleep Medicine. Simpelnya, banyak orang nggak bisa tidur selama pandemi." ujarnya, Selasa (16/3/2021).

Peningkatan pencarian kata 'insomnia' di Google ini pun meningkat tajam dibandingkan tahun 2019, pada 2020 kenaikannya mencapai 58%. Biasanya orang mencari kata 'insomnia' paling tinggi pukul 24.00-04.00.

"Padahal kesehatan tubuh berkaitan dengan sistem imun kita. Gangguan tidur bisa meningkatkan reaksi peradangan dalam tubuh," ungkap dr Andreas.

Kondisi kurang tidur ini pun penting karena masyarakat juga sedang menghadapi masa-masa vaksinasi COVID-19. Dengan kualitas tidur yang baik, penelitian mengungkap efektivitas vaksin juga akan meningkat dan bertahan lama dibandingkan mereka yang kurang tidur.

"Ada juga hypersomnia, kantuk berlebihan di siang hari. Ini kenapa? Apa corona bikin ngantuk terus? Penyebab biasanya adalah sleep apnea (henti napas saat tidur), gejalanya mendengkur dan ngantuk berlebihan. Akibatnya bangun nggak segar, kualitas tidur kurang baik, kerja jantung jadi berat," jelasnya.

Ada lagi studi lain juga menunjukkan adanya masalah tidur setelah pandemi datang. Studi terbaru dari Royal Philips untuk negara-negara Asia-Pasifik (APAC) sejak pandemi COVID-19 menunjukkan hampir dua pertiga (71%) dari responden mengalami perubahan pola tidur. Kebanyakan terjaga hingga larut karena khawatir dengan pekerjaan atau tantangan finansial dan membaca berita-berita terkait COVID-19 di tempat tidur mereka.

Empat dari 10 (41%) orang dewasa di APAC adults menyatakan mereka tidak puas dengan kualitas tidur mereka, meskipun rata-rata mendapatkan tidur sebanyak 7,2 jam setiap malam.



Simak Video "Corona hingga Omnibus Law Masuk Jajaran Trending Google 2020"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/afr)