Elon Musk Incar Energy Storage System di Indonesia, Apa Itu?

Elon Musk Incar Energy Storage System di Indonesia, Apa Itu?

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 09 Mar 2021 10:52 WIB
CEO Tesla Elon Musk melanggar aturan lockdown dengan membuka kembali pabrik Tesla di Fremont, California, AS. Area parkir pabrik Tesla yang penuh dengan mobil baru.
Apa Itu Energy Storage System yang Diincar Elon Musk di Indonesia. Foto: AP Photo/Ben Margot
Jakarta -

Kemenko Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves) menegaskan bahwa proyek yang diincar Tesla di Indonesia bukan untuk membangun pabrik mobil listrik. Tesla kabarnya mengincar investasi di sektor energy storage system (ESS) atau sistem penyimpanan energi. Apa itu?

Dikutip detikINET dari berbagai sumber, Selasa (9/3/2021) ESS adalah suatu metode atau alat untuk menyimpan sejumlah bentuk energi yang bisa diambil di waktu tertentu untuk berbagai kepentingan.

Alat yang digunakan untuk menyimpan energi terkadang disebut dengan akumulator. Semua bentuk energi yang termasuk ke dalam energi potensial mulai dari energi kimia, energi listrik, energi angin, hingga energi termal dapat dikumpulkan dan disimpan oleh akumulator pada sistem ini.

Latar belakang di balik konsep ini adalah agar energi dapat disimpan sehingga dapat dimanfaatkan di lain waktu untuk melakukan operasional yang bermanfaat.

Teknologi penyimpanan energi juga meliputi proses mengubah energi dari satu bentuk yang sulit disimpan ke bentuk yang lebih nyaman disimpan atau ekonomis.

Pemerintah Indonesia memang sedang meningkatkan upaya untuk menarik investor dalam berinvestasi untuk meningkatkan ekonomi Indonesia, termasuk salah satunya Tesla. Perusahaan milik Elon Musk ini pun tampak semakin serius ingin menanamkan modalnya di Indonesia.

Tesla adalah perusahaan yang memiliki reputasi bagus dalam manufaktur teknologi berbasis energi bebas karbon, seperti mobil listrik dan baterai EV (electric vehicle).

ESS yang umum dikembangkan, termasuk yang digunakan Tesla, yakni berbasis elektrokimia dengan menggunakan baterai litium. Keuntungan dari ESS berbasis baterai litium adalah memiliki dampak yang relatif kecil terhadap lingkungan, dan dapat dibangun pada berbagai kondisi geografis.

Baterai ESS juga memiliki densitas daya yang besar dengan rentang 1.300 hingga 10.000 Watt/m3, serta densitas energi sebesar 200 - 400 Wh/m3. Dalam sebuah studi pada tahun 2016, teknologi berbasis baterai ESS menyumbang sekitar 95% terhadap sistem baterai berskala grid.

Salah satu proyek baterai ESS terbesar di dunia yang telah diaplikasikan dalam skala komersial terletak di pembangkit listrik tenaga angin Hornsdale di Australia. Pada 2017, Tesla memenangkan kontrak proyek ini dan memakan biaya sekitar USD 90 juta. Proyek ini mampu menyediakan cadangan listrik sebesar 100 MW untuk 30.000 rumah.

ESS punya pangsa pasar yang besar di Indonesia. Elon Musk tampaknya melihat bahwa ESS merupakan potensi yang tepat untuk mengonservasi pasokan daya dari pembangkit listrik tenaga surya di Indonesia.

Di sisi lain, proyek ESS akan selaras dengan pemanfaatan solar fotovoltaik yang dicanangkan pemerintah untuk wilayah terpencil yang tidak terlalu membutuhkan transmisi listrik berskala besar, sehingga ESS akan mampu menyokong kebutuhan energi listrik.

Terutama mengingat Indonesia adalah negara kepulauan, tantangannya adalah distribusi listrik yang merata ke seluruh daerah. Untuk kondisi ini, ESS dinilai akan lebih efektif dibandingkan membangun lebih banyak pembangkit listrik.



Simak Video "Elon Musk: Jika Tesla Dipakai Mata-matai China, Kami Akan Ditutup"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)