Ilmuwan Ini Sebut Efikasi Vaksin Pfizer Cuma 19-29%

Ilmuwan Ini Sebut Efikasi Vaksin Pfizer Cuma 19-29%

Tim - detikInet
Selasa, 19 Jan 2021 11:45 WIB
A health care professional prepares a Pfizer-BioNTech COVID-19 vaccine at Sheba Tel Hashomer Hospital in Ramat Gan, Israel, Tuesday, Jan. 12, 2021. Israel has struck a deal with Pfizer, promising to share vast troves of medical data with the drugmaker in exchange for the continued flow of its COVID-19 vaccine. Critics say the deal is raising major ethical concerns, including possible privacy violations and a deepening of the global divide between wealthy countries and poorer populations, including Palestinians in the occupied West Bank and Gaza, who face long waits to be inoculated. (AP Photo/Oded Balilty)
Ilustrasi vaksin Pfizer. Foto: AP/Oded Balilty
Jakarta -

Vaksin Pfizer disebut punya efikasi atau kemanjuran yang sangat tinggi oleh perusahaan itu, yakni mencapai 95%. Akan tetapi ilmuwan asal Amerika Serikat ini mengutarakan keraguannya.

Keraguan itu dilontarkan oleh Peter Doshi, asisten profesor riset layanan kesehatan di University of Maryland School of Pharmacy. Dia juga merupakan editor di British Medical Journal.

Awalnya, dia menyebut hasil uji coba vaksin Pfizer dan juga Moderna yang ada di domain publik hanya berupa protokol penelitian dan siaran pers, sehingga dipandang kurang memadai. Setelah publikasi uji coba dirilis pun, Doshi tetap tidak puas dengan hasilnya.

Pada 4 Januari silam, Doshi menulis artikel dalam blog di jurnal tersebut yang mempertanyakan efikasi Pfizer. Pfizer telah menyebutkan bahwa mereka menemukan 170 kasus COVID-19 terkonfirmasi dengan tes PCR dalam uji coba fase III dan secara total ada 3.140 kasus terduga kena Corona.

Nah, jika semua kasus terduga itu terkonfirmasi benar sebagai penderita Corona, efikasi vaksin Pfizer menurut Doshi anjlok hanya 19%.

"Bahkan setelah dihilangkan kasus yang terjadi dalam 7 hari setelah vaksinasi (409 di vaksin Pfizer vs 287 pada plasebo), yang seharusnya mencakup sebagian besar gejala karena reaktogenitas vaksin jangka pendek, angka efikasi tetap rendah di 29%," tulisnya.

Opini dari Doshi ini cukup menuai pro dan kontra, termasuk di China. Media corong pemerintah China, Global Times, menghubungi beberapa pakar, sebagian meragukan pendapat Doshi. Sebab metode Doshi menghitung semua partisipan uji coba yang menunjukkan gejala adalah penderita Corona, meskipun tes PCR menunjukkan hasil negatif.

"Tes PCR itu sangat tinggi sensitifitasnya, 98,6% pada tahun silam. Tapi sensitifitasnya bisa hanya berada di bawah 5% menurut metode perhitungan Doshi ini," cetus Zhuang Shilihe, pakar vaksin di Guangzhou.

Doshi juga disebut ada indikasi anti vaksin. Sebelumnya, dia pernah mengkritik vaksin lain, seperti vaksin untuk flu.

Pfizer sendiri yakin vaksinnya efektif dengan efikasi lebih dari 90% dan beberapa negara termasuk Amerika Serikat dan Kanada telah menyetujui penggunaannya, walaupun ada kehebohan kasus puluhan lansia di Norwegia meninggal dunia setelah diberi vaksin Pfizer itu.



Simak Video "Momen Wanita 105 Tahun Disuntik Vaksin Covid-19 Pfizer"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fyk)