NASA Potret Erupsi Gunung Lewotolo di NTT, Ini Hasilnya

NASA Potret Erupsi Gunung Lewotolo di NTT, Ini Hasilnya

Fino Yurio Kristo - detikInet
Kamis, 03 Des 2020 13:16 WIB
Erupsi Lewotolo
Erupsi gunung Lewotolo yang terekam satelit NASA. Foto: NASA
Jakarta -

Salah satu satelit milik lembaga antariksa NASA menangkap momen letusan dahsyat Gunung Lewotolo di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terjadi beberapa hari yang lalu. Terlihat dari antariksa, asap tebal membumbung dari letusan tersebut.

Dilansir dari Antara, Minggu (29/11), Kasubbid Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur ESDM Devy Kamil Syahbana mengatakan hujan abu terjadi di sektor barat hingga selatan gunung api tersebut. Akibat hujan abu ini, warga setempat melakukan evakuasi mandiri ke Lewoleba.

"Ya, erupsi saat ini ketinggiannya 4.000 meter di atas puncak, lebih tinggi dari sebelumnya. Aktivitas magmatik masih tinggi di Lewotolok. Hujan abu terjadi, utamanya di sektor barat hingga selatan gunung api," katanya saat dihubungi Antara terkait erupsi Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terjadi sejak Jumat, (27/11).

Beberapa menit setelah erupsi, instrumen bernama Moderate Resolution Infrared Spectroradiometer yang ada di satelit Terra kepunyaan NASA merekam momen itu. Dibagikan oleh NASA Earth Observatory, terlihat dengan jelas abu tebal yang disebut Plume menyelubungi sebagian pulau.

Foto satelit NASA IndonesiaFoto satelit NASA Indonesia Foto: NASA

"Pada 29 November 2020, erupsi powerful di gunung apli Lewotolo melontarkan abu dan gas tinggi ke udara di Lembata, sebuah pulau di Indonesia," sebut NASA seperti dilihat dari websitenya, Kamis (3/12/2020).

"Asap mencapai ketinggian ribuan meter, membuat otoritas menutup bandara lokal dan mengeluarkan peringatan penerbangan di wilayah ini," tambah NASA.

Gunung api ini memiliki ketinggian 1.423 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sejak 7 Oktober 2017 dinaikkan statusnya menjadi Waspada karena ada peningkatan kegempaan yang berasosiasi dengan pergerakan magma, yaitu gempa tektonik lokal (TL), vulkanik dalam (VA), dan vulkanik dangkal (VB).

Namun, setelah meningkat signifikan, erupsi gunung api ini tidak terjadi karena tekanannya belum cukup. "Nah, seiring waktu, tekanannya terus terakumulasi dan sekarang sudah cukup untuk erupsi," kata Devy menjelaskan. NASA pun merekam kejadian tersebut.



Simak Video "Detik-detik Peluncuran Misi SpaceX ke Stasiun Luar Angkasa"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)