Ilmuwan NASA Pernah Bahas Perjalanan Waktu, Apa Katanya?

Sisi Ilmiah Mesin Waktu

Ilmuwan NASA Pernah Bahas Perjalanan Waktu, Apa Katanya?

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Minggu, 18 Okt 2020 07:04 WIB
food bar nasa
NASA pernah membahas perjalanan waktu (Foto: NASA)
Jakarta -

Ilmuwan NASA bernama Marc Rayman pernah mengomentari kemungkinan terjadinya perjalanan melintasi waktu, berdasarkan apa yang ia pelajari dalam sains.

Menurutnya, manusia yang ada di dunia ini sebenarnya sudah pernah melakukan perjalanan waktu, yaitu dengan kecepatan satu jam per jam. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah ada manusia yang pernah berkelana lebih cepat dari itu?

Hal ini sebenarnya berawal dari teori relativitas yang dicetuskan Albert Einstein, yang mengacu pada konsep ruang dan waktu.

"Setiap objek yang melewati ruang waktu memiliki batas kecepatan hingga 300.000 kilometer per detik, dengan cahaya selalu melintasi ruang hampa pada kecepatan tersebut," ujar Rayman, seperti detikINET kutip dari situs resmi NASA saat dilihat, Minggu (18/10/2020).

"Relativitas khusus juga menjelaskan bahwa saat sebuah objek bergerak melintasi ruang waktu pada kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya, maka waktu akan bergerak lebih lambat di sekitarnya," katanya menambahkan.

Implementasi teori tersebut juga dijelaskan lewat ilustrasi singkat oleh Rayman. Dalam ilustrasi tersebut, ia berandai jika ada anak berusia 15 tahun berkelana ke ruang angkasa dengan kecepatan 99,5% dari kecepatan cahaya, dan hanya merasakan waktu berlalu selama lima tahun.

"Saat ia pulang ke Bumi pada usia 20 tahun, ia akan melihat teman-temannya sudah berumur 65 tahun. Karena waktu berjalan lebih lambat baginya, maka lima tahun yang dilewatinya bisa sama dengan 50 tahun bagi objek yang tidak bergerak secepat dirinya," tutur Rayman.

Si anak itu, menurut Rayman, sebenarnya sudah menjadi penjelajah waktu yang kecepatannya melebihi satu jam per jam. Lebih kencang dari yang dilakukan semua orang di muka bumi.

Namun menurutnya perjalanan waktu juga tak selalu soal kecepatan, melainkan juga gravitasi. Einstein pernah menjelaskan hal ini dalam teori relativitas umum.

Dalam teori tersebut, Einstein memprediksi waktu bergerak lebih lambat bagi objek yang terkena gaya gravitasi, Bumi contohnya. Dari sini juga bisa dijelaskan fenomena distorsi ruang dan waktu yang terjadi saat objek berada dekat lubang hitam yang punya gaya gravitasi sangat tinggi.

Dalam beberapa tahun belakangan, para peneliti menggunakan distorsi pada ruang waktu tersebut untuk menemukan cara bagaimana mesin waktu dapat bekerja, salah satunya adalah konsep worm hole yang menjadi portal dalam melintasi ruang waktu.

Meskipun konsep tersebut berdasar pada sains, sampai saat ini belum ada yang bisa membuktikan bahwa semua ide tersebut bisa diimplementasikan pada objek sungguhan, misalnya sebuah mesin waktu.

"Saya percaya bahwa perjalanan melintasi waktu bisa saja terjadi, tapi kita akan membutuhkan pengembangan teknologi yang sangat mutakhir untuk melakukannya. Mungkin saja kita berkelana selama 1.000 tahun ke depan dan hanya bertambah tua setahun dalam perjalanan tersebut," ujar Rayman.

"Tapi jika pergi ke masa lalu, itu yang sulit. Melihat dari teori-teori yang ada, para peneliti tidak memiliki ilmu pengetahuan yang mencukupi terkait dengan hal tersebut, sampai kita benar-benar bisa menciptakan mesin waktu," katanya menambahkan.

Pada akhirnya, Rayman menyebut bahwa para astronaut yang berada dalam misi ke luar angkasa pun sejatinya mengalami distorsi waktu, berdasarkan teori relativitas umum dan khusus. Namun efeknya memang terlalu kecil jika dibandingkan dengan kehidupan manusia di Bumi.



Simak Video "Rekomendasi Film Bertema Mesin Waktu yang Seru Abis"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)
Debat Capres AS