4 Hal Konyol yang Sering Ditanyakan oleh Kaum Bumi Datar

4 Hal Konyol yang Sering Ditanyakan oleh Kaum Bumi Datar

Aisyah Kamaliah - detikInet
Selasa, 08 Sep 2020 05:49 WIB
IN SPACE - In this handout provided by the National Aeronautics and Space Administration, Earth as seen from a distance of one million miles by a NASA scientific camera aboard the Deep Space Climate Observatory spacecraft on July 6, 2015. (Photo by NASA via Getty Images)
Bumi datar atau Bumi bulat? Foto: NASA via Getty Images
Jakarta -

Flat Earthers alias kaum Bumi Datar memiliki kepercayaan dan pertanyaan yang mendasari mereka ragu akan bentuk dari Bumi. Banyak spekulasi dan tanda tanya yang membuat mereka berpikir 'hello, yakin nih Bumi bentuknya bulat?!'.

Dirangkum detikINET, berikut ini beberapa hal yang menjadi asal usul keraguan para penentang Bumi bulat.

1. Foto NASA editan

Banyak pendukung Bumi Datar yang meragukan hasil foto Bumi jepretan dari NASA. Padahal, Isaac Newton dan sejumlah ilmuwan besar lainnya pun mengatakan bentuk Bumi adalah oblate -- bulat gembung di tengah.

Dikutip dari Scientific American, bola dunia kita pun disebut tidak oblate spheroid sempurna, karena massa didistribusikan secara tidak merata di dalam planet ini.

"Semakin besar konsentrasi massa, semakin kuat tarikan gravitasinya, menciptakan tonjolan di seluruh dunia," kata ahli geologi Joe Meert dari University of Florida di Gainesville.

NASA pun secara rutin memproses gambar mentah untuk meningkatkan detail atau untuk memvisualisasikan hal-hal yang tidak pernah bisa dilihat oleh mata manusia. Badan antariksa lain dan banyak astronom turut melakukan hal yang sama. Ini demi membantu manusia memahami bentuk Bumi lebih baik ketimbang mengamati foto yang belum diedit.

2. Roket NASA tak terbang lurus ke atas

Hal lain yang dipertanyakan para penganut Bumi Datar, adalah kenapa roket yang diluncurkan NASA tak pernah terbang lurus ke atas, tetapi melengkung lalu horizontal dan tidak pernah lewat dari 'low earth orbit'. Bukannya bergerak dalam garis lurus, roket mengikuti lintasan yang melengkung.

Padahal jawabannya sederhana dan ilmiah: karena para ilmuwan ingin membuat roket mengorbit di sekitar Bumi dengan menggunakan bahan bakar sesedikit mungkin.