Ilmuwan Rusia Klaim Temukan Kelemahan Utama dari Virus Corona

Ilmuwan Rusia Klaim Temukan Kelemahan Utama dari Virus Corona

Adi Fida Rahman - detikInet
Selasa, 11 Agu 2020 09:02 WIB
Ilustrasi corona (Fauzan Kamil/detikcom)
Ilmuwan Rusia mengaku telah menemukan kelemahan utama dari virus Corona. Foto: Ilustrasi corona (Fauzan Kamil/detikcom)
Jakarta -

Para ilmuwan dari Pusat Penelitian Virologi dan Bioteknologi VECTOR Rusia memberikan update yang menggembirakan terkait COVID-19. Mereka mengaku telah menemukan kelemahan utama dari virus Corona.

Temuan para ilmuwan tersebut baru-baru ini dipresentasikan oleh Rospotrebnadzor, Layanan Federal untuk Pengawasan Perlindungan Hak-Hak Konsumen dan Kesejahteraan Manusia Rusia. Hasil riset kemudian disebarluaskan dalam laporan Sputnik News belum lama ini.

Disebutkan dalam hasil riset bahwa air suhu ruangan ternyata dapat membunuh 90% partikel virus Corona selama 24 jam. Setelah 72 jam, sekitar 99,9% partikel virus ditemukan mati.

Studi ini juga mengklaim bahwa air mendidih membunuh secara cepat seluruh partikel COVID-19. Air yang mengandung klorin pun diyakini sangat efektif dalam membunuh virus Corona

Di antara temuan tambahan, para peneliti mendapati bahwa unsur-unsur virus dapat tetap hidup untuk sementara waktu di air yang dideklorinasi serta air laut dengan tingkat kelangsungan hidup tergantung pada suhu. Namun setelah ratusan analisis, mereka berkesimpulan tidak ada risiko besar ditularkan melalui air, demikian dilansir dari laman BGR, Selasa (11/8/2020).

Sebelumnya Menteri Kesehatan Rusia Mikhail Murashko mengumumkan vaksin Corona buatan negaranya sudah siap dan segera menggelar vaksinasi massal pada bulan Oktober.

Murashko mengklaim uji klinis kandidat vaksin yang dikembangkan Gamaleya National Research Institute of Epidemiology and Microbiology telah selesai dilakukan. Hasilnya diklaim muncul respons imun terhadap virus Corona dan tidak ada efek sampingnya.

Menjawab berbagai kecurigaan dan kekhawatiran ini, Rusia mengatakan vaksinnya bisa cepat dikembangkan karena merupakan versi modifikasi dari yang sudah dibuat untuk memerangi penyakit terkait.

Dikatakan otoritas Rusia, metode yang sama juga digunakan oleh sejumlah negara dan perusahaan lain, termasuk Moderna. Perusahaan bioteknologi yang berbasis di Cambridge, Massachusetts, AS ini juga telah membangun vaksinnya berdasarkan pengembangan vaksin untuk MERS.

Rusia juga menyebutkan bahwa negaranya mempercepat proses persetujuan vaksin, murni karena situasi pandemi virus Corona yang buruk, dengan lebih dari 800 ribu kasus COVID-19 terkonfirmasi di negaranya.

"Ilmuwan kami fokus bukan pada menjadi yang pertama tetapi melindungi nyawa," kata Kirill Dmitriev, Kepala Sovereign Wealth Fund Rusia yang mendanai penelitian vaksin, seperti dikutip dari CNN.

"Rusia menempati kepemimpinannya dalam pengembangan vaksin dan platform vaksin Ebola dan MERS yang telah terbukti menjadi solusi pertama yang aman dan efisien untuk masalah terbesar di dunia," tutupnya.

Tonton video 'Benarkah Vaksinasi Influenza Bisa Ringankan Gejala COVID-19?':

[Gambas:Video 20detik]



(afr/afr)