Alasan Ilmiah Kenapa Ada Orang Ndablek Tak Mau Pakai Masker

Alasan Ilmiah Kenapa Ada Orang Ndablek Tak Mau Pakai Masker

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 16 Jul 2020 09:07 WIB
Young woman wearing face mask because of air pollution in the city
Alasan Ilmiah Kenapa Ada Orang Dablek Tak Mau Pakai Masker. Foto: iStock
Jakarta -

Memakai masker, menjaga jarak, rajin cuci tangan, dan protokol kesehatan lainnya jadi kebiasaan penting sebagai kontribusi ikut menekan penyebaran virus Corona. Tapi, ada orang-orang yang susah sekali mengikuti aturan ini.

Ndablek banget! Biasanya itu yang ada di pikiran kita yang berupaya patuh menjalankan protokol kesehatan. Tapi ternyata, kebebalan orang-orang ini ada alasannya secara ilmiah.

Studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences, meneliti periode tahap awal pandemi di Amerika Serikat (AS), yakni pada 13 Maret-25 Maret 2020, tepatnya setelah AS menyatakan kondisi darurat nasional.

Partisipan yang dilibatkan dalam penelitian ini diminta mengisi kuesioner yang dirancang untuk menilai suasana hati mereka, tingkat kecemasan, dan kepatuhan dengan langkah-langkah social distancing dan menjaga jarak fisik.

Mereka juga dinilai berdasarkan kecerdasan mereka dan pemahaman mereka tentang biaya dan manfaat dari melakukan social distancing dan protokol kesehatan lainnya.

Dikutip dari IFL Science, tim peneliti menemukan bahwa keputusan seseorang patuh melakukan protokol kesehatan di tahap awal pandemi berhubungan dengan salah satu kemampuan kognitif, yakni seberapa banyak memori yang bisa disimpannya.

Memori kerja adalah proses psikologis menyimpan informasi dalam pikiran untuk periode singkat saat melakukan operasi mental berkaitan dengan informasi itu, seperti membuat keputusan.

Orang dengan kapasitas memori kerja yang lebih rendah lebih kecil kemungkinannya untuk mematuhi langkah-langkah tersebut, dan kecil kemungkinannya untuk menyadari manfaat dari menjalankan protokol kesehatan untuk dirinya maupun orang lain.

"Semakin tinggi kapasitas ingatan kerja, semakin besar kemungkinan melakukan perilaku menjaga jarak dan memakai masker," kata penulis senior penelitian ini, Weiwei Zhang, professor psikologi dari University of California, Riverside, AS.

Korelasi ini bertahan bahkan setelah mereka mengendalikan faktor psikologis dan sosial ekonomi yang relevan, termasuk tingkat kecemasan, sifat kepribadian, pendidikan, dan pendapatan.

"Kami menemukan kepatuhan terhadap perilaku menjalankan protokol kesehatan di tengah pandemi bergantung pada proses pengambilan keputusan ini melibatkan upaya yang besar dengan mengevaluasi untung rugi perilaku ini dalam memori kerja," sebut Zhang.

"Proses pengambilan keputusan ini akan lebih mudah bagi orang-orang dengan kapasitas memori kerja yang lebih besar, sehingga mengarahkan mereka pada perilaku patuh menjaga jarak dan perilaku kesehatan lainnya," urainya.

Tim peneliti menyarankan agar para pembuat kebijakan memperhitungkan orang-orang yang kurang mampu secara kognitif ini saat membuat aturan sosial, dan merilis bahan informasi yang tidak membanjiri orang-orang dengan memori kerja dan kecerdasan rendah.

Karena kebiasaan menjaga jarak belum dianggap sebagai sebuah norma di kebanyakan negara seperti AS, para peneliti menyebut hal serupa juga berlaku untuk keputusan mematuhi protokol kesehatan lainnya.

Keputusan orang-orang dengan kemampuan kognitif rendah untuk mengikuti aturan menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, menutup mulut saat batuk dan bersin, serta kebiasaan penting lain di tengah pandemi, secara mental akan sulit.

"Pesan dalam materi informasi yang disampaikan harus ringkas dan singkat. Buatlah proses pengambilan keputusan mudah bagi semua orang," tutup Zhang.



Simak Video "Pasien Corona di Mamuju Kabur: Dijemput Petugas, Dilawan Keluarga!"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)