#JumatBerkah, Ini Penjelasan Berbuat Kebaikan Secara Ilmiah

#JumatBerkah, Ini Penjelasan Berbuat Kebaikan Secara Ilmiah

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 03 Jul 2020 10:25 WIB
Precious moments of love. Close up portrait of handsome bearded guy kissing his girlfriend in cheek while she hugging him. Lady closing eyes with pleasure and smiling
#JumatBerkah, Ini Penjelasan Berbuat Kebaikan Secara Ilmiah. Foto: iStock
Jakarta -

Selamat hari Jumat! Hari menjelang akhir pekan ini biasanya diramaikan dengan trending #JumatBerkah yang postingannya berisi ajakan atau pengingat untuk berbuat baik. Ternyata, kebaikan berbuah kebaikan lainnya tidak terjadi tanpa sebab loh, ada penjelasan ilmiahnya dari sisi sains.

Para peneliti berpendapat bahwa kebaikan bukan sebuah aksi random, melainkan berasal dari kebaikan yang pernah diperbuat seseorang dan kembali lagi ke orang tersebut.

Selain itu, disebutkan para peneliti bahwa sebuah tindakan kebaikan membuat kita merasa lebih baik secara emosi dan psikologis serta lebih sehat. Kebaikan juga merupakan kunci bagaimana manusia berevolusi dan bertahan sebagai sebuah spesies. Kita semua, pada dasarnya terprogram untuk bersikap baik.

"Kebaikan itu melekat mendarah daging, sama seperti kemarahan, nafsu atau kesedihan kita, atau seperti keinginan kita untuk membalas dendam," kata Michael McCullough, psikolog dari University of California San Diego dikutip dari KSAT.

Penulis buku 'Kindness of Strangers' juga mengatakan, kebaikan ibarat sebuah fitur utama dalam diri manusia yang sudah ada sejak lahir dan diterimanya begitu saja.

"Adanya kebaikan jauh lebih tua dari agama dan tampaknya memang universal. Alasan dasar mengapa orang punya sifat baik adalah karena kita adalah makhluk sosial," kata antropolog Oliver Curry dari University of Oxford.

Para peneliti menghargai sebuah kebaikan melebihi nilai lainnya. Ketika mereka menggabungkan nilai-nilai ke dalam sepuluh kategori dan bertanya kepada orang-orang apa yang lebih penting antara kebajikan atau kebaikan, maka kebaikan muncul sebagai pemenangnya.

"Kita semua punya sifat baik karena keadaan yang tepat. Kita semua mendapat manfaat dari kebaikan," kata Curry.

Jika berbicara bagaimana sebuah kebaikan bisa langgeng di antara spesies, antropolog evolusi dari Duke University Brian Hare menyebutkan, ini karena setiap kebaikan dan keramahan yang dilakukan pasti terbayar dengan kebaikan lain, begitu seterusnya.

"Kebaikan dan kerja sama berlaku semua spesies, apakah itu bakteri, tumbuhan, hingga hewan. Semakin banyak yang Anda bantu, semakin Anda sukses," jelas Hare.

Manusia pada dasarnya menyadari bahwa tidak ada perbedaan antara kerabat dekat dan orang asing, dan bahwa suatu hari ada saja orang asing yang membantu jika kita berbuat baik pada orang lain.

Sisi Buruknya

Hare mencontohkan induk beruang untuk memahami evolusi dan biologi kebaikan dan sisi buruknya yang bisa menjadikannya agresif. Hasil studi memperlihatkan, pada area tertentu di otak, korteks prefrontal medial, persimpangan parietal temporal dan area lainnya diaktifkan oleh aktivitas emosional.

Di area yang sama, terjadi proses yang memberi kemampuan untuk memelihara dan mencintai, tetapi juga hal-hal yang tidak manusiawi dan beberapa pengecualian.

Ketika induk beruang memberi makan dan mengasuh anaknya, area-area di otak ini diaktifkan dan menjadikan mereka bermurah hati dan penuh kasih sayang.

Tetapi jika seseorang mendekati induk beruang saat itu, ia mengatur mekanisme ancaman di otaknya pada area yang sama. Dengan demikian, beruang ini secara bersamaan menjadi penuh kasih dan murah hati tetapi juga bersifat agresif dan berbahaya.

Hal yang sama terjadi pada manusia. Beberapa orang yang murah hati kepada keluarga dan teman dekat, akan menjadi lebih marah ketika merasa terancam oleh orang. Hare merujuk pada polarisasi sebagai contohnya.

"Kelompok yang lebih terisolasi lebih mungkin merasa terancam oleh orang lain dan mereka cenderung secara moral terpinggirkan, tidak manusiawi, dan itu membuka pintu menuju sifat jahat," terangnya.

Bikin Tubuh Lebih Sehat

Tetapi secara keseluruhan, tubuh kita tidak hanya diprogram untuk bersikap baik. Tubuh ini dilihat dari sisi sains menghargai kita ketika bersikap baik, kata para ilmuwan.

"Melakukan kebaikan membuat Anda lebih bahagia, dan menjadi lebih bahagia membuat Anda melakukan lebih banyak tindakan baik," kata ekonom tenaga kerja Richard Layard, yang mempelajari tentang kebahagiaan di London School of Economics.

Profesor Sonja Lyubomorsky, psikolog dari University of California Riverside telah menguji konsep itu dalam berbagai percobaan selama lebih dari 20 tahun dan berulang kali menemukan bahwa orang merasa lebih baik secara psikologis ketika mereka berbuat baik kepada orang lain, bahkan merasa lebih daripada ketika mereka berbuat baik pada diri sendiri.

"Sebuah tindakan kebaikan berdampak sangat kuat," kata Lyubomirsky.

Kebaikan bukan hanya berdampak bagus pada emosi, tetapi juga fisik. Lyubomirsky dalam studinya yang melibatkan orang dengan multiple sclerosis, menemukan bahwa mereka merasa lebih baik secara fisik ketika membantu orang lain.

Dia juga menemukan bahwa pada orang yang melakukan lebih banyak tindakan kebaikan, gen yang memicu peradangan lebih banyak tertolak ketimbang yang tidak.

"Dalam penelitian terbaru saya, ditemukan lebih banyak gen antivirus pada orang yang banyak melakukan tindakan kebaikan," tutupnya.

Yuk, jadikan berbuat baik sebagai kebiasaan gak hanya di #JumatBerkah. Kebaikan tidak harus sesuatu yang besar, tapi bisa dimulai dari hal sederhana seperti menolong membukakan pintu, menyapa teman dengan ramah, mengucapkan terima kasih pada petugas keamanan di kantor, atau bilang tolong saat meminta bantuan.

(rns/rns)