Kisah Ilmuwan Bentengi Antartika dari Ancaman Corona

Kisah Ilmuwan Bentengi Antartika dari Ancaman Corona

Fino Yurio Kristo - detikInet
Kamis, 14 Mei 2020 15:35 WIB
Virus corona tak sampai di Antartika: Pengalaman tinggal di kawasan yang belum terjangkau wabah, warga mengisolasi diri di tempat yang sudah terisolir
Benua Antartika. Foto: BBC Magazine
Antartika -

Antartika masih menjadi satu-satunya benua yang bebas COVID-19. Para ilmuwan yang melakukan penelitian di sana pun berusaha keras mempertahankan wilayah itu agar jangan sampai Corona melanda.

"Kasus COVID-19 di sini bisa jadi bencana. Jadi kami juga melakukan lockdown. Ibaratnya melakukan isolasi di daerah isolasi. Pencegahan jauh lebih baik ketimbang pengobatan," kata Dr Pradeep Tomar yang sekarang berada di markas India di Antartika, Bharati.

Memang seandainya salah satu orang di Antartika kena Corona, bisa fatal akibatnya. Fasilitas medis amat terbatas, jauh dari mana-mana dan jika satu terkena, yang lain berpotensi besar ikut menderita COVID-19.

Dikutip detikINET dari BBC, total ada 23 orang di basis India itu dan mereka memberlakukan lockdown sejak bulan Februari. Siapapun yang baru datang dari luar Antartika juga harus dikarantina selama 14 hari.

Ada 29 negara punya pusat penelitian di Antartika. Sebelum ada lockdown, kadang mereka saling berkunjung ke markas negara lain untuk sekadar main, merayakan sesuatu atau meminjam barang.

Akan tetapi sejak awal Maret, sudah tidak ada aktivitas semacam itu. Kegiatan bersama peneliti negara lain dihentikan untuk sementara.

Dr Tomar sendiri tiba di Antartika pada November 2019, ketika situasi dunia masih normal. Kini dia kadang dilanda kecemasan karena kurangnya informasi soal pandemi Corona dari dunia luar serta khawatir tentang nasib keluarganya.