Mikroba di Usus Bisa Prediksi Risiko Kematian

Mikroba di Usus Bisa Prediksi Risiko Kematian

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 10 Mei 2020 05:15 WIB
woman with colorectal cancer concept on the pink backgorund
Mikroba di Usus Bisa Prediksi Risiko Kematian. (Foto: iStock)
Jakarta -

Mikroba dalam usus, diketahui punya keterkaitan terhadap segala hal tentang kesehatan tubuh kita, mulai dari radang sendi hingga autisme. Penelitian terbaru menyebutkan, mengetahui kondisi mikroba usus bisa mengantisipasi risiko kematian dalam 15 tahun ke depan.

"Saya berharap dan sangat antusias bahwa komunitas peneliti ini akan mencapai titik di mana kami dapat mengembangkan terapi dan diagnostik berbasis mikrobioma. Saya pikir ini masih dalam kemungkinan," kata Samuel Minot, peneliti mikrobiom dari Fred Hutchinson Cancer Research Center, dikutip dari Science Mag.

Dalam studi pertama, peneliti meninjau 47 studi yang mengamati hubungan antara genom kolektif mikroba usus dan 13 penyakit umum. Ini termasuk skizofrenia, hipertensi, dan asma yang semuanya dianggap 'kompleks' karena disebabkan faktor lingkungan dan genetik.

Mereka kemudian membandingkan studi ini dengan 24 studi asosiasi genome-wide (GWA), yang mengkorelasikan varian genetik manusia dengan penyakit.

Secara keseluruhan, tanda genetik mikroba usus 20% lebih baik dalam membedakan antara orang sehat dan sakit ketimbang gen seseorang sendiri.

Menurut penelitian ini, mikrobioma 50% lebih baik daripada studi GWA dalam memprediksi apakah seseorang menderita kanker kolorektal atau tidak. Sedangkan profil genetik seseorang hanya mengungguli microbioma dalam memprediksi apakah seseorang menderita diabetes tipe 1.

Meskipun sang penulis studi Braden Tierney, ahli biologi komputasi dari Harvard Medical School mengakui analisis itu masih awal, ia mengatakan pekerjaan ini pada akhirnya akan dapat bermanfaat bagi orang.

"Kami dapat menggunakan mikrobioma dan genetika manusia di klinik untuk meningkatkan kualitas hidup pasien," ujarnya.

Tujuannya, katanya, adalah mengidentifikasi penanda kunci dalam kedua set genom yang dapat membantu mendiagnosis penyakit kompleks ini.