Rabu, 25 Des 2019 20:30 WIB

Fosil Laba-laba Raksasa Ternyata Cuma Hoax

Virgina Maulita Putri - detikInet
Foto: University of Kansas
Jakarta - Ketika fosil laba-laba raksasa ditemukan oleh pencari fosil di China beberapa waktu yang lalu, banyak ilmuwan yang gembira melihat penemuan ini. Tapi apakah fosil tersebut benar laba-laba atau sesuatu yang lain?

Dilansir detikINET dari Geek, Rabu (25/12/2019) spesimen ini pertama kali ditemukan di Lower Cretaceous Yixian Formation dan kemudian dijual kepada Dalian Natural History Museum di Liaoning, China. Para ilmuwan pun mendeskripsikan fosil tersebut di jurnal Acta Geologica Sinica dan fosil tersebut diberi nama Mongolarachne chaoyangensis.

Tapi, ilmuwan lainnya di Beijing sedikit ragu akan fosil ini karena penampilannya yang aneh. Mereka kemudian menghubungi Paul Selden, seorang profesor paleontologi invertebrata di University of Kansas.


Begitu Selden melihat spesimen tersebut, ia langsung sadar bahwa fosil yang ia lihat bukanlah fosil laba-laba raksasa, melainkan spesies lain yang umum ditemui.

"Ada beberapa bagian yang hilang, terlalu banyak segmen di keenam kakinya dan mata yang besar. Saya terus bertanya-tanya sampai kolega saya di Beijing, Chungkun Shih, mengatakan, 'Kamu tahu, ada banyak udang karang di daerah ini. Mungkin ini salah satunya," kata Selden.

"Jadi saya menyadari apa yang saya pegang adalah udang karang yang diawetkan secara buruk di mana seseorang telah menambahkan beberapa kaki," imbuhnya.

Untuk mengidentifikasi bagian mana yang merupakan fosil yang sebenarnya dan mana yang palsu, Selden menggunakan teknik yang disebut mikroskop fluoresensi. Selden dan timnya kemudian menemukan bukti adanya cat dengan bahan dasar minyak yang digunakan untuk melukis fosil tersebut.


Bagi mata yang tidak cermat dan tidak terlatih, fosil ini tentu terlihat seperti asli. Selden pun mengaku fosil ini dipalsukan dengan cara yang meyakinkan.

Selden juga mengatakan praktek pemalsuan fosil sebenarnya sesuatu yang umum ditemui untuk bisa mendapatkan banyak uang. Apalagi jika menyangkut fosil dinosaurus yang harganya bisa sangat mahal. Tapi jarang ditemui fosil palsu yang berhasil dibahas di jurnal akademik.

"Hal seperti ini biasanya digali oleh petani lokal, dan mereka ingin tahu berapa banyak uang yang mereka bisa dapatkan," ujar Selden.

"Mereka tentu saja menemukan fosil ini dan berpikir, 'Ini terlihat seperti laba-laba.' Dan mereka kemudian menambahkan lukisan beberapa kaki - tapi ini dilakukan dengan cukup terampil," pungkasnya.

Simak Video "Ilmuwan Manfaatkan Laba-laba Perangi Keganasan Nyamuk Malaria"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/asj)