Minggu, 17 Nov 2019 18:00 WIB

Fosil Kera Raksasa Ditemukan, Tingginya Dua Kali Manusia

Agus Tri Haryanto - detikInet
Fosil gigi dari Gigantopithecus blacki yang disebut nenek moyang manusia. Foto: Mirror Fosil gigi dari Gigantopithecus blacki yang disebut nenek moyang manusia. Foto: Mirror
Jakarta - Peneliti mulai menemukan petunjuk bahwa ada makhluk berjenis kera yang ukurannya raksasa, di mana bila dibandingkan hampir dua kali lebih tinggi dari manusia. Diduga kera ini adalah nenek moyang dari orangutan modern.

Hal ini bermula dari ditemukannya fosil gigi di wilayah Chile selatan. Skala dari gigi tersebut jauh lebih besar dari manusia dewasa.

Peneliti pun menduga bahwa gigi tersebut berasal dari kera raksasa yang pernah berkeliaran di Bumi pada sekitar dua juta tahun lalu.


Kera raksasa yang juga dijuluki sebagai Gigantopithecus blacki itu berhasil diidentifikasi melalui teknik spektrometri massa. Teknik ini untuk mengurutkan protein enamel gigi dari Gigantopithecus, seperti dikutip detikINET dari Mirror, Minggu (17/11/2019).

Proses ini melibatkan pemecahan protein menjadi peptida, yang merupakan rantai pendek asam amino, dan menganalisis massa mereka untuk mengetahui komposisi kimianya.

Sebenarnya penggunaan spektrometri massa ini relatif baru dan sebelumnya hanya dipakai untuk mengekstrasi informasi genetik dari badak berumur 1,7 juta tahun. Kendati begitu, metode ini dipuji karena mampu memberikan informasi genetik yang dicari para ilmuwan, terutama pada fosil yang ditemukan dari daerah subtropis.

Petunjuk Nenek Moyan Manusia Mulai TerungkapFoto: Mirror


"Sampai sekarang, sebelumnya hanya mungkin untuk mengambil informasi genetik dari fosil berusia 10 ribu tahun di daerah yang hangat dan lembab," ujar Frido Walker, peneliti postdoctoral di Globe Institute, University of Copenhagen dan penulis studi ini.

Hasilnya, peneliti saat ini mampu menggambarkan Gigantopithecus yang telah punah 300 ribu tahun lalu itu. Mereka percaya bahwa kera raksasa ini tingginya sekitar 3 meter dan bobotnya mencapai 600 kilogram.

Menariknya lagi, bagi peneliti, penemuan ini semakin mencerahkan evolusi kera zaman purba dengan orangutan yang masih hidup saat ini. Adapun hasil penelitian ini telah diterbitkan ke dalam jurnal Nature.



Simak Video "Peneliti CSIS Nilai Demokrasi di Indonesia Kurang Baik"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fyk)