Kemungkinan Sampah Antariksa Jatuh di Indonesia Sangat Tinggi - Halaman 3

Ancaman dari Antariksa

Kemungkinan Sampah Antariksa Jatuh di Indonesia Sangat Tinggi

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 04 Sep 2019 17:25 WIB
Halaman ke 3 dari 3
Foto: NASA

Berdasarkan data pantauan jaringan radar, rata-rata setiap 2-3 hari ada bekas satelit, roket, atau sampah antariksa lainnya yang jatuh ke Bumi. Indonesia sendiri sudah cukup sering kejatuhan sampah antariksa.

Beberapa sampah antariksa yang jatuh di Indonesia tersebut, dirangkumkan Thomas sebagai berikut:

  • 1981, tabung bahan bakar roket milik Uni Soviet (sekarang Rusia)
  • 1988, tabung bahan bakar roket milik Uni Soviet
  • 2003, pecahan tabung roket milik China jatuh di Bengkulu, Provinsi Bengkulu
  • 2016, tabung bahan bakar milik AS jatuh di Sumenep, Jawa Timur
  • 2017, dua keping tabung roket dan pecahan roket milik China jatuh di Sumatera Barat.


Dikatakan Thomas, sampai saat ini tidak ada mekanisme yang dapat dilakukan manusia untuk mencegah jatuhnya sampah antariksa ke Bumi dan meminimalkan dampaknya. Sampah antariksa pun tidak bisa diprakirakan titik jatuhnya di mana.

"Hanya bisa dipantau, tapi pemantauan itu hanya untuk mengidentifikasi itu milik siapa kalau sudah jatuh. Jadi untuk mengantisipasi jatuhnya itu tidak memungkinkan," ujarnya.

Dia mencontohkan, sampah antariksa berupa pecahan tabung roket milik China yang jatuh di Bengkulu pada 2003, sebelumnya diprakirakan jatuh di Jazirah Arab. Kejadian jatuhnya tabung bahan bakar milik AS di Sumenep, Jawa Timur di 2016 pun, awalnya diprakirakan jatuh di Lautan Hindia.

"Jadi memang tidak bisa diprakirakan. Paling jalurnya saja yang perlu diwaspadai. Jadi LAPAN biasanya kalau ada sampah antariksa yang akan jatuh akan mengidentifikasi milik siapa, ada potensi bahaya atau tidak," rincinya.

Sepanjang perkembangan teknologi antariksa, menurut Thomas, belum ada laporan kejadian yang membahayakan orang atau barang yang terkena benda jatuh dari luar angkasa.




Meski demikian, kita tidak boleh lengah. Karenanya, jaringan pengawas satelit, radar militer dan badan antariksa nasional dari berbagai negara termasuk LAPAN, terus mengamati obyek-obyek di orbit Bumi.

"Kalau ada sampah antariksa itu akan dilihat sampah antariksanya apa, apakah bermuatan bahan nuklir atau tidak, kalau tidak bermuatan nuklir apakah berpotensi mengandung zat kimia atau tidak, LAPAN selalu memantau itu," tutupnya.

(rns/krs) (rns/krs)