Sabtu, 20 Jul 2019 11:04 WIB

Jalan Terjal Artemis, Proyek NASA Bawa Manusia Kembali ke Bulan

Fino Yurio Kristo - detikInet
Baju angkasa Neil Armstrong saat ke Bulan. Foto: Reuters Baju angkasa Neil Armstrong saat ke Bulan. Foto: Reuters
Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat memang telah mematok target agar NASA bisa kembali membawa manusia ke Bulan dalam waktu dekat. Akan tetapi, jalannya masih terjal seperti yang ditulis dalam laporan The Verge dan dikutip detikINET.

20 Juli 1969 atau tepat 50 tahun silam adalah saat paling bersejarah bagi NASA, di mana misi Apollo 11 berhasil mendaratkan manusia di Bulan untuk kali pertama. Kini, rencana NASA ke Bulan disebut dengan nama Artemis.

Kali ini, NASA ingin astronot bisa terus hadir di Bulan sehingga akan dibuat pula semacam stasiun angkasa di orbitnya yang bernama Gateway. Jadi rencananya, astronot pergi ke Gateway dulu, baru kemudian menginjak permukaan Bulan dengan perangkat pendaratan atau lander.

Beberapa perangkat yang dibutuhkan untuk misi Artemis sudah lama dikembangkan. Roket besar bernama Space Launch System (SLS) dan kapsul untuk kru bernama Orion sudah dibuat selama sekitar 10 tahun. Keduanya diharapkan sudah bisa uji coba terbang pertama kali pada 2021.


Tak cukup hanya membuatnya, pengujian menyeluruh pun harus dilakukan. Alhasil, masih banyak pekerjaan dan kesuksesan Artemis amat bergantung apakah ada cukup dana yang diperoleh NASA.

Apalagi jadwal SLS tidak mulus, di mana penerbangan perdana diharapkan pada tahun 2017, kini sudah mundur sampai 2021. Ongkosnya bengkak dan ada kritik mengatakan NASA sebaiknya beralih memakai roket komersial yang sudah siap terbang. Apalagi biayanya lebih murah.
Jalan Terjal Artemis, Proyek NASA Bawa Manusia Kembali ke BulanIlustrasi SLS. Foto: istimewa

NASA memang sempat mempertimbangkan memakai roket komersial seperti Falcon Heavy milik SpaceX. Namun akhirnya diputuskan sudah terlalu sulit dan kompleks untuk mengubah rencana sehingga mereka tetap berpegang pada proyek SLS.

Gateway dan Wahana Pendaratan

Gateway adalah aspek penting dalam proyek Artemis. Pada dasarnya, Gateway adalah versi lebih kecil dari International Space Station dan akan melayang di orbit Bulan. Tujuannya untuk habitat astronot, pelatihan dan melakukan penelitian. Astronot pun bisa bolak balik ke permukaan Bulan.

Konsep Gateway diperkenalkan pada Maret 2017. Bentuknya semacam beberapa modul yang disatukan dan dibuat oleh beberapa perusahaan berbeda. Ide awal NASA adalah astronot mengunjungi Gateway pada 2024 dan baru menginjak kembali ke Bulan pada 2028.

Tapi presiden Donald Trump mengubah rencana itu karena pada tahun 2024, NASA diharuskan sudah mendaratkan manusia kembali ke Bulan, bukan 2028. Desain Gateway pun diubah di mana bentuknya dikecilkan menjadi hanya dua modul. Astronot bisa sebentar berada di gateway dan langsung menuju ke Bulan.


Ide Gateway sebenarnya kontroversial karena dianggap kemahalan dan kurang penting, malah menambah kompleksitas. Tapi NASA jalan terus, bahkan telah menunjuk perusahaan bernama Maxar untuk membuat komponen pertamanya, berupa modul dengan tenaga surya.

Modul itu seharusnya selesai dan diluncurkan dengan roket pada tahun 2022. Tapi kemungkinan ada penundaan karena Ken Bowersox, Head of Human Exploration NASA, menyebutkan kemungkinan perubahan desain final Gateway.
Jalan Terjal Artemis, Proyek NASA Bawa Manusia Kembali ke BulanIlustrasi Gateway. Foto: istimewa

Sementara itu, Lander atau wahana pendaratan adalah perangkat yang paling krusial dalam pendaratan di permukaan Bulan. Nah masalahnya lagi, NASA sejauh ini belum memilih perusahaan mana yang membuatnya.

Perusahaan Blue Origin milik Jeff Bezos telah memamerkan konsep lander, tapi percuma kalau NASA belum memutuskan untuk menunjuk mereka. Mereka diharapkan cepat melakukannya karena dibutuhkan banyak pengujian sebelum lander baru itu dinyatakan aman membawa astronot.

Isu berikutnya juga menerpa desain baju antariksa dan kabarnya, masih butuh tahunan untuk menyelesaikannya. Desain itu tertunda antara lain karena NASA belum merumuskan apa saja yang akan dilakukan astronot di Bulan.

"Apa yang kita cari adalah arsitektur baju antariksa yang fleksibel, sesuatu yang dapat dipakai di orbit rendah Bumi dan di Bulan," sebut administrator NASA, Jim Bridenstine, memberi bocoran.

Dana Jadi Penentuan

Memang benar bahwa NASA kemungkinan besar punya kapabilitas teknis untuk menyelesaikan segala persoalan kompleks itu. Akan tetapi semuanya pasti akan bermuara ke masalah dana, apakah bisa mencukupi untuk menyelenggarakan misi Artemis tepat waktu.

Pemerintah sudah coba meminta dana tambahan USD 1,6 miliar buat NASA tahun depan, di samping anggaran reguler NASA, demi membiayai Artemis. Bridenstine mengatakan keseluruhan biaya untuk program Artemis dalam 5 tahun ke depan membutuhkan ekstra biaya sangat tinggi, antara USD 20 sampai 30 miliar.


Itu adalah jumlah luar biasa. Masalahnya, Congress mungkin agak enggan mengeluarkan dana sebanyak itu karena beberapa kontroversi yang melingkupi NASA. Apalagi dana tambahan USD 1,6 miliar yang baru saja diminta Gedung Putih berasal dari surplus beasiswa untuk siswa miskin. Istilahnya, jadi tidak pro rakyat miskin demi program antariksa.

Maka, gabungan semua permasalahan itu menandakan pendaratan kembali ke Bulan penuh halangan. Dari ketidaksiapan perangkat sampai masalah dana. Walau demikian, NASA mengaku tetap optimistis.

"Jika semuanya berjalan baik, sistemnya mungkin bekerja sesuai jadwal, tapi penundaan pada komponen utama dari proses itu bisa memperkecil peluang NASA memenuhi deadline 2024," tulis The Verge.

Simak Video "Video NASA Detik-detik Merkurius Lintasi Matahari"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/rns)