Kamis, 02 Mei 2019 06:05 WIB

Konferensi Bumi Datar Pertama Berlangsung di Selandia Baru

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Ilustrasi Bumi datar. Ilustrator: Kiagus/detikcom Ilustrasi Bumi datar. Ilustrator: Kiagus/detikcom
FOKUS BERITA Perdebatan Bumi Datar
Jakarta - Auckland, Selandia Baru, jadi lokasi anyar yang menyelenggarakan konferensi internasional penganut Bumi datar. Sejumlah dedengkot dari para penganut teori konspirasi tersebut, seperti Mark Sargent dan Robbie Davidson, turut hadir dalam pertemuan itu.

Mark Sargent adalah bintang dari film dokumenter Netflix tentang Bumi datar berjudul Behind the Curve. Dalam konferensi tersebut, ia mengatakan ada jutaan orang yang percaya teori konspirasi tersebut di seluruh dunia, atau biasa disebut Flat Earther.


"90% dari anggota kami tidak membicarakan keanggotaannya. Saya membuatnya seperti film lama Fight Club, dengan aturan pertama di dalam 'flat club' adalah kamu tidak berbicara mengenai 'flat club', dan itu benar adanya, kamu harus memilih anggotamu dengan bijak," tuturnya.

Sedangkan Robbie Davidson merupakan pendiri dari Flat Earth International Conference. Dalam pertemuan kali ini, ia masih sebal lantaran paham Bumi datar kerap ditertawakan.

"Tidak ada yang percaya bahwa kita bisa jatuh (ke luar angkasa) dari tepian, dan kita bukan sebuah pancake terbang di antariksa," ucapnya, sebagaimana detikINET kutip dari Newshub, Kamis (2/5/2019).

Ia pun menjelaskan bahwa Bumi, menurutnya, adalah sebuah planet berbentuk datar dengan sebuah kubah di atasnya. Lalu, Matahari, Bulan, bintang, dan segala objek luar angkasa lainnya yang bisa kita lihat di langit ada di dalam kubah tersebut.

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa NASA dan organiasi antariksa lainnya terlibat dalam sebuah konspirasi. Bahkan, Davidson menyebut mereka tidak pernah benar-benar pergi ke luar angkasa.

Konferensi Bumi Datar Pertama Berlangsung di Selandia BaruFoto: Internet
Tidak cuma dihadiri para penganut Bumi datar

Walau tajuknya adalah konferensi internasional Bumi datar, orang-orang yang ikut di dalamnya ternyata tak cuma para penganut teori konspirasi tersebut. Ada orang-orang biasa yang ingin tahu bagaimana rasanya menghadiri pertemuan tersebut.

Salah satunya adalah Oskar Howell. Impresi pertamanya dalam melihat konferensi tersebut tak ubahnya seperti menghadiri pertemuan bisnis. Orang-orang yang hadir berpakaian rapi. Tak tampak ada yang mengenakan kaus atau atribut berbau Bumi datar.


Walau demikian, atmosfer di dalamnya tidak senormal kelihatannya. Ia merasa ada aura tak mengenakkan di dalamnya. Para hadirin tampak melihat peserta lain di sebelahnya dan seperti mempertanyakan apakah mereka benar-benar penganut Bumi datar atau hanya datang untuk mengolok-olok.

"Tekanannya benar-benar terasa," ucapnya, yang notabene memang bukan penganut Bumi datar.

Sekadar info, per orang dikenai biaya USD 250 untuk menghadiri konferensi tersebut, yang sejatinya tak ubahnya seperti seminar. Selain itu, dengan tambahan USD 100, peserta bisa makan malam bersama para pembicara di dalam pertemuan tersebut. (mon/rns)
FOKUS BERITA Perdebatan Bumi Datar