Sabtu, 20 Apr 2019 07:30 WIB

Apa Jadinya Jika Jentikan Jari Thanos Sungguh Terjadi di Bumi?

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Thanos. Foto: dok Twitter Thanos. Foto: dok Twitter
Jakarta - Avengers: Endgame hanya tinggal hitungan hari dalam melakukan penayangan perdananya di bioskop Indonesia. Film tersebut tentu akan memberikan mengenai nasib para tokoh yang lenyap akibat jentikan jari Thanos di Avengers: Infinity War.

Ya, makluk besar berwarna ungu itu melenyapkan separuh kehidupan alam semesta secara acak setelah mengoleksi enam Infinity Stone. Menurut Kevin Feige, President Marvel Studios sekaligus produser Avengers: Endgame, jentikan jari Thanos berlaku untuk seluruh makhluk hidup, baik manusia, hewan, tanaman, hingga bakteri.

Lantas, bagaimana jika kepunahan masal tersebut benar-benar terjadi di dunia nyata? Apakah itu bisa membuat dunia ini jadi tempat yang lebih baik sebagaimana Thanos dambakan?



Jawabannya adalah tidak. "Itu adalah ide yang buruk dilihat dari segi manapun," ujar Ken Lacovara, ahli paleontologi dari Rowan University, Glassboro, New Jersey, Amerika Serikat.

Alasannya adalah efek jentikan jari Thanos tidak akan berlangsung lama. Hal ini lantaran manusia sudah terbukti mengalami pertumbuhan jumlah yang masif dari tahun ke tahun.

Pada 1960, populasi manusia di dunia berada di kisaran 3 miliar. Lalu, pada 2000, jumlahnya bertambah jadi 6 miliar. Itu berarti, jika pertumbuhannya tetap, ketika separuh penduduk Bumi saat ini hilang (3,8 miliar dari 7,6 miliar), maka dalam waktu sekitar 50 tahun lagi, jumlahnya akan kembali seperti semula.

Lalu, bagaimana dengan spesies lain? Janet Hoole, ahli perilaku hewan dan evolusi manusia dari Keele University, Inggris, menjelaskan bahwa akan ada ketimpangan spesies tergantung dari strategi mereka dalam bertahan hidup.

Hal ini merujuk pada siklus hidup binatang. Hewan yang siklus hidupnya cepat, jumlahnya akan melebihi mereka yang siklus hidupnya lebih lambat.

Golongan pertama dapat diwakili oleh kodok yang bisa kembali pada populasi awalnya dalam waktu setahun. Sedangkan nyamuk lebih hebat lagi. Mereka hanya butuh satu periode musim panas untuk berada pada posisi sebelum jentikan Thanos dilakukan.

Sedangkan bagi binatang seperti harimau dan badak Jawa, mereka akan semakin mendekati kepunahan. Hal ini karena peluang bagi spesies tersebut untuk melakukan reproduksi akan lebih kecil, namun mereka akan semakin rawan dari ancaman perburuan dan penyakit.

"Hasil akhirnya akan menyederhanakan ekosistem global dengan hewan langka akan semakin langka dan semakin berkurangnya keberagaman gen," ujar Hoole.

Di sisi lain, Ben Liberton, ahli mikrobiologi, mencoba menerangkan apa yang akan menimpa bakteri akibat dari terjadinya jentikan jari Thanos. Perhatian utamanya tertuju pada bakteri yang berada di tanah dan laut.

Jika separuhnya lenyap, dan jumlahnya tidak dapat kembali seperti semula dengan cepat, itu akan memberikan ancaman bagi kehidupan yang bergantung dari mereka. Salah satunya adalah tanaman.

Walau efek jentikan jari Thanos tampak menyeramkan, hal tersebut dianggap tidak ada apa-apanya dibanding kehancuran yang pernah menimpa Bumi di masa lalu. Hal tersebut diungkapkan oleh Alfio Alessandro Chiarenca, ahli paleontologi dari Imperial College London, Inggris.



Ia menjelaskan bahwa 252 juta tahun lalu, kepunahan massal yang dipicu letusan gunung berapi sukses menghapus sekitar 96% spesies di laut. Kejadian tersebut dikenal sebagai The Great Dying.

"Kehidupan hampir sepenuhnya musnah," ucapnya, sebaaimana detikINET kutip dari Gizmodo, Sabtu (20/4/2019). (mon/fyk)