Rabu, 17 Apr 2019 10:15 WIB

Matahari bakal Lebih 'Kalem' Setahun ke Depan

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Ilustrasi Matahari. Foto: DW (Soft News) Ilustrasi Matahari. Foto: DW (Soft News)
Jakarta - Penurunan suhu global sepertinya akan terjadi dalam waktu dekat. Hal ini merujuk pada pernyataan para ahli terkait dengan prediksi mengenai siklus Matahari ke depan.

Patut diketahui, siklus Matahari adalah periode sepanjang sebelas tahun yang terdiri dari solar maximum dan solar minimum. Aspek pertama merupakan momen saat bintik Matahari (sunspot) sedang ada banyak-banyaknya, sedangkan nama berikutnya berarti sebaliknya.

Untuk diketahui, bintik Matahari adalah titik gelap di permukaan Matahari yang terjadi akibat aktivitas magnetis hebat. Suhunya cenderung lebih dingin, dengan perbedaan yang ada bisa mencapai 5.500 derajat Celsius.



Daerah di sekitar bintik Matahari biasanya sering terjadi corona loops dan corona mass ejection (CME). Fenomena itu bisa menyemburkan hawa panas dari Matahari ke luar angkasa.

Semakin banyaknya bintik Matahari, maka semakin tinggi juga intensitas semburan tersebut. Maka dari itu, pada solar maximum, Matahari melontarkan lebih banyak energi ke Bumi sehingga suhu planet yang kita huni jadi meningkat. Hal sebaliknya berlaku pada solar minimum.

Nah, yang akan kita hadapi sebentar lagi adalah solar minimum. Para ahli memperkirakan fenomena tersebut bakal berlangsung sejak Juli 2019 hingga September 2020. Menyusul kemudian terjadinya solar maximum di antara 2023 hingga 2026.

Suhu Bumi bakal turun ekstrem?

Potensi penurunan suhu pada Bumi pun direspons dengan cukup menarik. Ada yang bilang bahwa Planet Biru ini akan kembali ke abad 17, mengulang peristiwa bernama Meander Minimum.

Saat itu, solar minimum benar-benar terjadi dengan level sangat rendah selama 70 tahun. Dengan 'menjadi dingin'-nya Bumi, banyak pihak yang mengatakan ini akan menyelamatkan dunia dari perubahan iklim.

Entah harus berbahagia lantaran teori konspirasi itu salah, atau malah bersedih karena Bumi gagal selamat dari jeratan perubahan iklim. Satu yang jelas, para ahli mengatakan solar minimum nanti tidak akan mencapai di level ekstrem tersebut.

"Tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa kita sedang mendekati solar minimum seperti saat Maunder. Solar minimum nanti akan cukup dalam, namun tidak sedalam itu," ujar Lisa Upton, ahli fisika Matahari dari Space Systems Research Corporation.

"Kami memperkirakan siklus Matahari 25 akan sangat mirip dengan siklus Matahari 24, solar maximum yang lemah lagi, yang didahului dengan solar minimum yang cukup dalam yang berlangsung panjang," katanya menambahkan, sebagaimana detikINET kutip dari Space Weather, situs besutan NASA, Rabu (17/4/2019).



Jangan bingung dengan angka yang tersemat pada siklus Matahari. Itu hanya menandakan urutan saja, mengingat peristiwa tersebut ditemukan sejak abad ke 19. Angka 25 merupakan siklus teranyar, sedangkan 24 siklus sebelumnya.

Jadi, nikmati saja jika memang suhu di sekitar kamu terasa cukup turun, namun bukan karena penyejuk ruangan ya. Satu yang tak boleh dilupakan, mari kita hidup ramah lingkungan, karena, seperti kata Lisa, Bumi ini tidak selamat dari perubahan iklim hanya lantaran terjadinya solar minimum. (mon/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed