Senin, 24 Sep 2018 14:45 WIB

Laporan dari Hangzhou

Teknologi Canggih Lindungi Gajah Adopsi Jack Ma

Rachmatunnisa - detikInet
Teknologi canggih melindungi gajah yang diadopsi Jack Ma (Foto: Dok: Alibaba) Teknologi canggih melindungi gajah yang diadopsi Jack Ma (Foto: Dok: Alibaba)
Hangzhou - Melindungi satwa liar bukan pekerjaan mudah. Dengan bantuan teknologi, tugas ini setidaknya menjadi lebih ringan dan efisien. Seperti pada gajah yang diadopsi Jack Ma.

Pada 24 Juli 2017, Ma mengadopsi seekor gajah Afrika. Gajah lucu itu dinamai Hangzhou, sesuai dengan nama daerah asal pendiri Alibaba tersebut.

Ma meminta sekelompok ilmuwan dan dokter hewan memasangkan pelacak berupa kalung GPS pada Hangzhou. Kini, setahun telah berlalu. Para ilmuwan menganalisis data dari GPS tersebut untuk melacak pergerakan Hangzhou.




Hasil data menunjukkan, Hangzhou sering berada di sekitar sungai yang dikelilingi hutan dan memiliki pasokan cukup makanan yang relatif tidak terpengaruh musim. Kondisi ini menjadikan area tersebut sebagai habitat ideal untuk berkembang biak.

Selain Hangzhou ada ribuan satwa liar lainnya yang dilindungi dengan teknologi. Pada perhelatan Cloud Computing Conference 2018 di Hangzhou, China, Alibaba Cloud selaku perusahaan komputasi awan milik Alibaba Group mengumumkan kolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dan Margasatwa Republik Kenya, dalam pemanfaatan teknologi Alibaba Cloud guna mendukung Proyek Perlindungan Satwa Kenya.

"Dalam kesempatan ini, saya ingin mengucapkan selamat kepada Jack Ma. Hangzhou, gajah yang Anda adopsi, saat ini sedang hamil," kata Sekretaris Utama Kementerian Pariwisata dan Margasatwa Republik Kenya Dr. Margaret Mwakima di atas panggung Cloud Computing Conference 2018.


Teknologi Canggih Lindungi Gajah Adopsi Jack Ma Teknologi canggih melindungi gajah yang diadopsi Jack Ma (Foto: Dok: Alibaba)


Kabar kehamilan Hangzhou pun disambut senyum lebar Ma, yang duduk di deretan paling depan konferensi tersebut, dan tepuk tangan hadirin yang memadati hall Cloud Town International Convention and Exhibition Center tempat berlangsungnya konferensi.

Margaret melanjutkan, proyek pertama kolaborasi Kementerian Pariwisata dan Margasatwa Republik Kenya dengan Alibaba Cloud yang telah didiskusikan, akan diterapkan di dalam area Taman Nasional Tsavo Timur dan Barat, salah satu kawasan lindung terbesar dengan cakupan 13.500 kilometer per segi.

Dengan memanfaatkan kemampuan komputasi yang canggih, artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dan Internet of Things (IoT) dari Alibaba Cloud, proyek ini bertujuan untuk melindungi gajah, badak, dan singa yang hampir punah di kawasan taman nasional ini.

Pada kesempatan yang sama Senior Vice President of Alibaba Group dan President of Alibaba Cloud Simon Hu mengungkapkan kerja sama ini merupakan kehormatan besar bagi Alibaba Cloud, karena bisa mendukung pemerintah Kenya dan memberikan kontribusi teknologi untuk upaya perlindungan satwa liar di sana.




"Kami tidak sabar untuk bergabung dengan mitra dan pemangku kepentingan dari seluruh dunia dalam meningkatkan upaya perlindungan satwa dan ekosistem vital lainnya di Kenya dengan bantuan inovasi teknologi," sebutnya.

Sementara itu Margaret juga menambahkan bahwa pelestarian satwa liar bukan hanya untuk Kenya. Pasalnya, keberlangsungan hidup satwa liar adalah kepentingan global.

Dikatakan Margaret, ekosistem di Taman Nasional Tsavo Timur dan Barat di Kenya, merupakan habitat utama bagi badak, jerapah, dan singa di antara spesies lainnya.


Teknologi Canggih Lindungi Gajah Adopsi Jack Ma Teknologi canggih melindungi gajah yang diadopsi Jack Ma (Foto: Dok: Alibaba)


"Oleh karena itu, penggunaan teknologi menjadi penting bagi pemerintah Kenya dalam melindungi satwa dan habitat mereka dalam ekosistem Tsavo. Kami sangat senang dapat memanfaatkan teknologi dari Alibaba Group untuk meningkatkan pengamanan dan perlindungan satwa kami," ujarnya.

Data pariwisata Kenya menunjukkan, satwa seperti gajah, badak, jerapah, dan kerbau, adalah spesies istimewa yang menjadi atraksi utama bagi turis yang datang ke Kenya.

Pariwisata merupakan sektor penting bagi perekonomian Kenya. Saat ini, Kenya memiliki 35.000 populasi gajah dan 42% di antaranya (12.843) berada di ekosistem Tsavo.

Pada proyek ini, kedua pihak akan menggunakan berbagai fitur yang terkoneksi dengan platform IoT Alibaba Cloud.

Teknologi seperti sensor untuk melacak satwa, kamera dengan sensor infra merah, pos-pos perkiraan cuaca pintar, peralatan untuk para ranger, dan drone pemantau area luas rencananya akan diterapkan untuk mengumpulkan data real time pergerakan dan kondisi kesehatan satwa secara umum.




Platform ini selanjutnya akan menganalisis data dan memprediksi perilaku serta rute jelajah, dan membantu pusat komando untuk berjaga-jaga akan potensi risiko dan bahaya seperti penangkapan ilegal dan konflik antara manusia dan satwa.

Teknologi ini pun akan membantu pengaturan tim lapangan taman nasional menjadi lebih sigap dan lebih baik dalam mengelola Taman Nasional.

Selain itu, kedua pihak akan mencari cara untuk menggabungkan jaringan telekomunikasi dari operator GSM lokal dengan satelit yang telah disertifikasi pemerintah untuk membangun infrastruktur.


Teknologi Canggih Lindungi Gajah Adopsi Jack Ma Teknologi canggih melindungi gajah yang diadopsi Jack Ma (Foto: Dok: Alibaba)


Penggabungan ini akan membantu transmisi data menjadi lebih cerdas dan hemat biaya guna mendapatkan data terbaru.

Proyek untuk Taman Nasional Tsavo adalah langkah awal untuk mengembangkan kerja sama antara Alibaba Cloud dan Pemerintah Kenya. Kedua pihak telah setuju untuk mencari potensi lain untuk mengembangkan proyek perlindungan satwa untuk taman nasional lain di Kenya.

Tujuan akhirnya, membangun platform digital untuk perlindungan makhluk hidup dalam skala nasional. Alibaba Cloud dan Pemerintah Kenya juga akan melihat lebih jauh untuk kesempatan kerja sama dalam pelatihan pegawai dan membangun pariwisata yang mendidik di Kenya.



(rns/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed