Minggu, 01 Apr 2018 14:12 WIB

Stasiun Antariksa 8,5 Ton Hantam Indonesia? Ini Kepastiannya

Agus Tri Haryanto - detikInet
Tanda panah menunjukkan perkiraan lokasi benda saat ketinggian 10 km dari permukaan bumi. Foto: LAPAN via Space-track Tanda panah menunjukkan perkiraan lokasi benda saat ketinggian 10 km dari permukaan bumi. Foto: LAPAN via Space-track
Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memastikan bahwa stasiun luar angkasa Tiangong-1 tidak akan menghantam Indonesia saat jatuh ke Bumi.

Kabar ini tentunya menjadi jawaban dari teka-teki perihal jatuhnya wahana antariksa tersebut, usai dinyatakan tidak bisa dikontrol lagi oleh otoritas China dan akan menghantam Bumi di awal April ini.

"Hasil analisis terakhir, Indonesia aman. Diperkirakan jatuh di Pasifik," ujar Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin melalui pesan singkatnya kepada detikINET, Minggu (1/2/2018).



Tiangong-1 yang punyat bobot 8,5 ton ini juga sudah mulai diketahui kapan akan 'tiba' di Bumi. Stasiun antariksa milik China itu akan jatuh pada esok hari, Selasa dini hari (2/4/2018).

Rhorom Priyatikanto, Peneliti Bidang Astronomi dan Astrofisika Pusat Sains Antariksa LAPAN mengatakan, kemarin pagi Tiangong-1 sempat melintasi di atas wilayah Papua.

Lintasan Tiangong-1 pada 2 April 2018 pukul 07:15 WIB +/- 6 jam Tanda panah menunjukkan perkiraan lokasi benda saat ketinggiannya 10 km dari permukaan Bumi.Lintasan Tiangong-1 pada 2 April 2018 pukul 07:15 WIB +/- 6 jam Tanda panah menunjukkan perkiraan lokasi benda saat ketinggiannya 10 km dari permukaan Bumi. Foto: LAPAN via Space-track


"Namun, kini tidak lagi. Hingga waktu re entry nanti (2 April dini hari), Tiangong-1 tidak akan lewat di atas wilayah Indonesia. Maka, Indonesia diprediksi aman," sebutnya.

Rhorom melanjutkan pada 2 April dini hari nanti, Tiangong-1 akan sampai pada ketinggian 120 kilometer. Selebihnya lagi, stasiun antariksa itu akan langsung turun drastis menghantam Bumi.

"Selanjutnya akan turun drastis, tapi kemungkinan besar tidak menyimpang jauh dari lintasan terakhirnya," kata Rhorom.



Diketahui, pertama kali diluncurkan pada 29 September 2011, stasiun luar angkasa pertama Negeri Tirai Bambu tersebut mengorbit di ketinggian 350 kilometer.

Ketika itu, Tiangong-1 merupakan muatan dari Long March 2F yang diluncurkan di Jiuquan Satellite Launch Center, China.

Stasiun luar angkasa berbentuk tabung dengan panjang 10,4 meter berdiameter 3,4 meter dan dilengkapi bentengan panel surya di kedua sisinya ini, pernah ditempati para penjelajah antariksa dari China.

Namun sejak 2016, Tiangong-1 sudah tidak dapat dikontrol lagi dan mulai turun orbitnya. Stasiun luar angkasa China itu berpotensi jatuh ke Bumi di wilayah pada rentang 43 derajat lintang utara sampai 43 derajat lintang selatan, termasuk Indonesia di dalamnya.

Saksikan video 20Detik untuk mengetahui perkembangan soal jatuhnya Tiangong-1 di sini:

[Gambas:Video 20detik] (agt/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed