Rabu, 21 Mar 2018 18:12 WIB

Hari Tanpa Bayangan Berdampak ke Layanan Berbasis Satelit

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilustrasi hari tanpa bayangan. Foto: Muhammad Ridho Ilustrasi hari tanpa bayangan. Foto: Muhammad Ridho
FOKUS BERITA Hari Tanpa Bayangan
Jakarta - Telkom mengatakan fenomena seperti hari tanpa bayangan ini biasa terjadi dalam layanan yang berbasis satelit. Perusahaan BUMN ini pun telah mengantisipasi sejak jauh-jauh hari agar tidak berdampak panjang kepada pelanggan.

"Itu fenomena alam yang dalam layanan satelit biasa terjadi, sehingga baik operator satelit dan pelanggan sudah dapat mengantisipasi dampaknya," ujar Vice President Corporate Communication Telkom Arif Prabowo, Rabu (21/3/2018).

Sebagai informasi, Telkom sendiri mayoritas produk-produk layanannya memanfaatkan teknologi satelit, yakni Very Small Aperature Terminal (VSAT).


"Telkom concern terhadap semua keluahan pelanggan, sehingga fenomena ini kita menginformasikan ke pelanggan," sebutnya.

Gangguan komunikasi satelit ini terjadinya sun outage, di mana posisi Matahari, Bumi, dan satelit dalam posisi sejajar. Ketika itu, tidak dapat sinyal karena satelit pemancar berada dekat dengan Matahari. Dan, hari tanpa bayangan ini hasil dari fenomena sun outage.

"Sun outage adalah pada saat antena VSAT mengarah ke Matahari, diperkirakan paling lama 15 menit selama delapan hari. Dan, semua stasiun Bumi di Indonesia akan mengalami dua kali dalam setahun, yaitu Maret dan September," tuturnya.

"Jika akan terjadi sun outage, pelanggan akan diberi informasi sebelumnya," kata Arif terkait antisipasi Telkom terhadap peristiwa alam.

Seperti diketahui, Indonesia mengalami fenomena alam menarik pada 21 Maret 2018. Matahari berada tepat di atas ekuator (khatulistiwa). Kejadian itu membuat Indonesia pada siang hari tidak punya bayangan.

Tidak seluruh Indonesia, melainkan peristiwa tersebut berlangsung di wilayah tertentu. Matahari akan berada hampir tepat di atas kepala. Hal ini mengakibatkan tidak ada bayangan tepat di siang hari.

"Fenomena ini disebut hari nir bayangan atau hari tanpa bayangan," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat LAPAN Jasyanto.


LAPAN menyebutkan, Indonesia mengalami hari nir bayangan sebanyak dua kali pada tahun ini, yaitu pada 21 Maret dan 23 September 2018.

Peristiwa ini terjadi karena Bumi beredar mengitari Matahari pada jarak 150 juta kilometer dengan periode sekitar 365 hari. Garis edar Bumi berbentuk agak lonjong sehingga Bumi kadang bergerak lebih cepat dan kadang bergerak lebih lambat.

Bidang edar Bumi disebut sebagai bidang ekliptika. Bidang ini miring sebesar 23,4 derajat terhadap bidang ekuator Bumi. Karenanya, Matahari tampak berada di atas belahan Bumi utara selama sekitar setengah tahun dan berada di atas belahan Bumi selatan setengah tahun sisanya.

"Perubahan posisi tampak Matahari menyebabkan perubahan musim di Bumi, misalnya empat musim di daerah subtropis dan juga musim kering-basah di wilayah Indonesia," jelas Jasyanto. (agt/fyk)
FOKUS BERITA Hari Tanpa Bayangan

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed