Rabu, 21 Mar 2018 13:08 WIB

Hari Tanpa Bayangan, Kominfo: Sinyal Hilang 5-10 Menit

Agus Tri Haryanto, Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilustrasi hari tanpa bayangan. Foto: Muhammad Ridho/detikcom Ilustrasi hari tanpa bayangan. Foto: Muhammad Ridho/detikcom
FOKUS BERITA Hari Tanpa Bayangan
Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengkonfirmasi bahwa puncak hari tanpa bayangan berdampak pada hilangnya sinyal dalam beberapa menit.

Hilang sinyal dimaksud itu adalah teknologi yang menggunakan satelit, seperti telepon satelit hingga TV kabel yang menggunakan parabola yang mengalami sun outage, yakni tidak bisa menerima sinyal karena satelit pemancar berada dekat dengan Matahari.

"Pada saat terjadi sun outage, satelit akan hilang sinyal selama 5-10 menit," ujar Plt Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Noor Iza ketika dihubungi detikINET, Rabu (21/3/2018).


Dijelaskan bahwa sun outage ini, di mana pada posisi tertentu ada pengaruh kepada komunikasi dengan satelit dengan stasiun yang ada di Bumi. Peristiwa ini terjadi dua kali dalam setahun.

"Hal ini memang menjadi parameter teknis yang sudah dipertimbangkan dalam penggunaan satelit," sebut Noor.

Matahari yang berada tepat di tengah Bumi ini, di mana satelit ada di tengah-tengah mengakibatkan gangguan pada sistem komunikasi satelit pada saat itu.

Sebagai catatan, sun outage ini berbeda untuk tiap satelit yang tergantung posisi slot wahana tersebut.

"Untuk BTS (Base Transceiver Station) yang memanfaatkan VSAT, maka ada jeda akibat sun outage tersebut," ungkapnya.


Seperti diketahui, Indonesia mengalami fenomena alam menarik pada 21 Maret 2018. Matahari berada tepat di atas ekuator (khatulistiwa). Kejadian itu akan membuat Indonesia pada siang hari tidak punya bayangan.

Tidak seluruh Indonesia, melainkan peristiwa tersebut berlangsung di wilayah tertentu. Matahari akan berada hampir tepat di atas kepala. Hal ini mengakibatkan tidak ada bayangan tepat di siang hari.

"Fenomena ini disebut hari nir bayangan atau hari tanpa bayangan," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat LAPAN Jasyanto.

LAPAN menyebutkan, Indonesia mengalami hari nir bayangan sebanyak dua kali pada tahun ini, yaitu pada 21 Maret dan 23 September 2018.

Peristiwa ini terjadi karena Bumi beredar mengitari Matahari pada jarak 150 juta kilometer dengan periode sekitar 365 hari. Garis edar Bumi berbentuk agak lonjong sehingga Bumi kadang bergerak lebih cepat dan kadang bergerak lebih lambat.

Bidang edar Bumi disebut sebagai bidang ekliptika. Bidang ini miring sebesar 23,4 derajat terhadap bidang ekuator Bumi. Karenanya, Matahari tampak berada di atas belahan Bumi utara selama sekitar setengah tahun dan berada di atas belahan Bumi selatan setengah tahun sisanya.

"Perubahan posisi tampak Matahari menyebabkan perubahan musim di Bumi, misalnya empat musim di daerah subtropis dan juga musim kering-basah di wilayah Indonesia," jelas Jasyanto.

(agt/fyk)
FOKUS BERITA Hari Tanpa Bayangan