Kamis, 22 Feb 2018 10:37 WIB

NASA Blak-blakan Soal Perjalanan Melintasi Waktu

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Ilustrasi. Foto: istimewa Ilustrasi. Foto: istimewa
Jakarta - Fenomena penjelajah waktu yang kembali menyeruak pun turut memancing badan antariksa Amerika Serikat untuk buka suara.

Marc Rayman, salah seorang ilmuwan dari NASA memberikan pendapatnya mengenai kemungkinan terjadinya perjalanan melintasi waktu berdasarkan apa yang dipelajari dalam sains.

Baginya, setiap manusia di dunia sejatinya sudah melakukan perjalanan waktu, dengan kecepatan 1 jam per jam. "Yang jadi pertanyaannya adalah, bisakah manusia berkelana lebih cepat dari itu?," ucapnya.



Menurutnya, semua berawal dari sebuah teori bernama relativitas khusus yang dicetuskan oleh salah satu ilmuwan kenamaan abad 20, yaitu Albert Einstein, yang mengacu pada konsep ruang waktu.

"Setiap objek yang melewati ruang waktu memiliki batas kecepatan hingga 300.000 kilometer per detik, dengan cahaya selalu melintasi ruang hampa pada kecepatan tersebut," ujar Rayman, seperti detikINET kutip dari situs resmi NASA, Kamis (22/2/2018).

"Relativitas khusus juga menjelaskan bahwa saat sebuah objek bergerak melintasi ruang waktu pada kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya, maka waktu akan bergerak lebih lambat di sekitarnya," katanya menambahkan.

Rayman pun memberikan ilustrasi singkat yang berkaitan dengan implementasi dari teori tersebut. Ia memulai dengan seorang anak berusia 15 tahun yang berkelana ke luar angkasa menggunakan pesawat antariksa, dengan kecepatan sekitar 99.5% dari kecepatan cahaya dan hanya merasakan waktu berlalu selama 5 tahun.

"Saat ia pulang ke Bumi pada usia 20 tahun, ia akan melihat teman-temannya sudah berumur 65 tahun. Karena waktu berjalan lebih lambat baginya, maka lima tahun yang dilewatinya bisa sama dengan 50 tahun bagi objek yang tidak bergerak secepat dirinya," tutur Rayman.

Dari ilustrasi tersebut, ia mengambil kesimpulan bahwa anak tersebut sudah melakukan penjelajah waktu, dengan melebihi kecepatan satu jam per jam, sebagaimana yang dilakukan oleh semua orang di muka Bumi, sehingga mengantarnya pergi ke masa depan.

Perjalanan waktu seperti itu pun tidak melulu soal kecepatan, namun juga dapat disebabkan oleh gravitasi. Mengenai hal tersebut, Einstein menjelaskannya dalam teori relativitas umum.

Dalam teorinya, Einstein memprediksi waktu bergerak lebih lambat bagi objek yang berada di tempat dengan gaya gravitasi, contohnya Bumi, dibandingkan dengan objek yang tidak terpengaruh medan gravitasi.

Hal tersebut pun juga menjelaskan fenomena distorsi ruang dan waktu yang terjadi pada objek saat berada di dekat lubang hitam dengan gaya gravitasi yang sangat tinggi.

Dalam beberapa tahun belakangan, para peneliti menggunakan distorsi pada ruang waktu tersebut untuk menemukan cara bagaimana mesin waktu dapat bekerja, salah satunya adalah konsep worm hole yang menjadi portal dalam melintasi ruang waktu.

Walau konsep tersebut, serta sejumlah teori lain mengenai perjalanan waktu, berdasarkan pada sains, namun sampai saat belum ada yang dapat membuktikan apakah semua ide tersebut dapat benar-benar diimplementasikan oleh objek sungguhan.

"Saya percaya bahwa perjalanan melintasi waktu bisa saja terjadi, tapi kita akan membutuhkan pengembangan teknologi yang sangat mutakhir untuk melakukannya. Mungkin saja kita berkelana selama 1.000 tahun ke depan dan hanya bertambah tua setahun dalam perjalanan tersebut," ujar Rayman.

"Tapi jika pergi ke masa lalu, itu yang sulit. Melihat dari teori-teori yang ada, para peneliti tidak memiliki ilmu pengetahuan yang mencukupi terkait dengan hal tersebut, sampai kita benar-benar bisa menciptakan mesin waktu," katanya menambahkan.

Ia pun turut menyebutkan bahwa para angkasawan yang terlibat dalam misi ke luar angkasa sejatinya mengalami distorsi waktu, terkait dengan teori relativitas umum dan khusus, namun efeknya terlalu kecil jika dibandingkan dengan kehidupan manusia di Bumi. (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed