Minggu, 21 Jan 2018 18:41 WIB

Menengok Persaingan Kolonisasi Menjangkau Bulan

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: internet Foto: internet
FOKUS BERITA Gerhana Bulan Langka
Jakarta - Blue Origin mendapat tantangan serius dari sejumlah strartup yang tak kalah ambisius untuk merealisasikan proyek mereka ke Bulan.

Sejumlah perusahaan semakin menunjukkan keseriusannya untul melakukan eksplorasi luar angkasa. Saat Elon Musk dan SpaceX tampak asyik sendiri untuk menjangkau Mars, dengan sedikit goyangan dari Boeing, persaingan menuju Bulan menjadi lebih menarik untuk disimak.

Mulai dari Astrobiotic, Moon Express, iSpace, hingga Blue Origin bersaing untuk memberikan proyeksi terbaik dalam pemanfaatan misi mereka ke Bulan dalam pewujudan kolonisasi manusia.

Menengok Astrobiotic, mereka tengah merencanakan kolonisasi dengan mengembangkan alat pendarat ke Bulan yang diberi nama Peregrine sebagai moda transportasi. Peregrine dapat mengangkut kargo hingga bobot maksimal 265 kg.

Menengok Persaingan Kolonisasi Menjangkau BulanPeregrine buatan Astrobiotic. Foto: internet

Astrobiotic merencanakan peluncuran Peregrine pada pertengahan 2020 mendatang, yang diperkirakan akan menghabiskan dana sekitar USD 545 ribu (Rp 7,2 miliar) setiap 0,5 kg dari kargo yang diangkut.

Untuk menutupi biaya tersebut, Dan Hendrickson, Vice President of Business Development Astrobiotic mengaku sudah ada 11 mitra yang bekerja sama dalam penanaman modal.

Jika Astrobiotic memiliki Peregrine, maka Moon Express mempunyai lini MX, yang sama-sama bertugas mengangkut muatan. Pendarat Bulan ini diproyeksikan dapat membawa beban di kisaran 10-20 kg, dengan pengembangan yang memungkinkannya untuk menggotong muatan hingga 500 kg.

Perusahaan yang didirikan oleh pengusaha asal Kanada, Robert Richards, ini akan fokus pada kegiatan pertambangan di Bulan, dengan komoditi utamanya adalah es.

Menengok Persaingan Kolonisasi Menjangkau BulanMX besutan Moon Express. Foto: internet


Air yang membeku tersebut dapat dipecah menjadi hidrogen dan oksigen sehingga berguna sebagai komponen bahan bakar roket. Penambangan di Bulan pun dapat memfasilitasi pembuatan stasiun pengisian bahan bakar yang dapat digunakan untuk perjalanan antariksa di masa depan.

Rencananya, Moon Express akan meluncurkan salah satu dari lini MX mereka pada 31 Maret mendatang, menjadikan mereka menjadi yang terdepan dalam memulai misi pendaratan ke Bulan, seperti detikINET kutip Space, Minggu (21/1/2018).

Lain halnya dengan iSpace. Startup asal Jepang ini berencana untuk mengirimkan sejumlah pendarat ke Bulan pada 2020 mendatang, yang masing-masing dapat mengangkut sekitar 4 kg muatan. Ke depannya, mereka berencananya untuk menambah kemampuannya hingga sanggup di angka 30 kg.

Untuk mewujudkan hal tersebut, akhir tahun lalu mereka baru saja mendapatkan dana senilai USD 90,2 juta (Rp 1,2 triliun) dari sejumlah perusahaan, seperti Suzuki Motor dan Japan Airlines.

Menengok Persaingan Kolonisasi Menjangkau BulaniSpace siap diluncurkan tahun 2020 mendatang. Foto: internet


Sedangkan Blue Origin sedang menyiapkan Blue Moon, yang digadang-gadang dapat mengangkut beban hingga 4.500 kg ke permukaan Bulan. Berdasarkan keterangan dari A. C. Charania, Manager of Advance Program Blue Origin, misi Blue Moon pertama tidak akan lama lagi.

Perusahaan besutan Jeff Bezos ini berencana untuk membuat sebuah pemukiman permanen di salah satu titik di Bulan dalam mendukung usaha mereka mewujudkan pariwisata ke luar angkasa. (afr/rou)
FOKUS BERITA Gerhana Bulan Langka

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed