Salah satu ciri khas dari ponsel premium Sony adalah adanya sertifikasi IP68 untuk fitur air dan juga debu. Fitur tersebut pertama kali diperkenalkan Sony pada seri Xperia Z yang dirilis di tahun 2013 yang lalu. Namun karena ponsel premium punya harga yang tidak murah, maka tidak semua orang bisa merasakan fitur tersebut.
Lewat Xperia M2 Aqua, Sony coba membawa keunggulan dari para ponsel kelas atas tersebut ke segmen menengah. Dengan harga yang juga lebih terjangkau, fitur premium tersebut akhirnya bisa dinikmati oleh lebih banyak orang.
Lalu selain kemampuan anti debu dan air hingga kedalaman 1,5 meter, apa lagi yang ditawarkan Xperia M2 Aqua pada penggunanya dan bagaimana performanya? Berikut reviewnya:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Desain
|
|
Panel bagian depan diisi oleh layar seluas 4,8 inch, earpiece, dan juga kamera. Di sisi belakang, sentuhan akhir matte pada permukaan plastik memberikan kesan elegan yang tidak murahan pada ponsel Sony ini. Logo Sony, Xperia, NFC, serta kamera utama yang ditemani LED flash bisa ditemui pada sisi ini.
Dengan ukuran yang terbilang kecil untuk ponsel saat ini, Xperia M2 sangat pas di genggaman tangan. Untuk melakukan navigasi dapat dilakukan menggunakan satu tangan saja tanpa harus mengalami kendala berarti.
Tombol fisik untuk power, volume, serta shutter kamera semuanya ada di sisi kanan perangkat. Di atas tombol-tombol tersebut terdapat sebuah slot untuk micro-SIM dan juga microSD up-to 32GB yang tersebunyi dibalik penutup khusus untuk fitur anti air dan debu. Di sisi kiri terdapat port micro USB yang juga dilindungi seperti slot micro SIM.
Satu yang kurang menyenangkan adalah soal 3,5 mm headset jack yang harus ditutupi penutup khusus. Hal ini sama seperti yang ditemui pada Xperia Z. Saat posisi headset terpasang, otomatis penutup tersebut harus dibuka.

Dengan lipatan yang kurang fleksibel, ini tentunya mengganggu untuk pengguna yang sering menempatkan ponsel di saku celana sambil mendengarkan lagu lewat headset karena penutup yang terlihat ringkih tersebut terlihat bisa terlepas kapan saja.
Untuk speaker, Sony menempatkannya di bagian dagu perangkat. Letaknya memang kurang ideal karena mudah tertutup tangan ketika penggunaan dalam orientasi landscape. Meski begitu output suara yang dihasilkan sudah tergolong nyaring dan mencukupi untuk kebutuhan multimedia.
2. Layar
|
|
Saturasi warna dan kontras layar juga biasa-biasa saja. Performa layar saat terpapar sinar matahari terbilang sedikit kurang. Syukurnya menaikan tingkat brigtness bisa sedikit menolong.
Seandainya ada fitur triluminous display dan X-Reality seperti pada ponsel premium mungkin akan lebih baik, tapi tentu saja keduanya absen pada ponsel ini. Jika merasa kurang nyaman saat menatap layar, setelan white balance yang ada di menu setting bagian display bisa disesuaikan dengan preferensi pribadi.
Sudut untuk melihat layar sudah cukup baik dari segala sisi sehingga tidak akan mengganggu mata saat menatap layar. Bagi yang sering menyaksikan video YouTube via ponsel, resolusi maksimal saat menggunakan Xperia M2 Aqua hanya sampai 480p. Meski tidak sampai tingkat HD 720p, tapi resolusi tersebut sudah cukup.
3. Hardware dan Software
|
|
Meski spesifikasinya memang biasa-biasa saja, tapi performa Xperia M2 Aqua tidak terlalu mengecewakan. Transisi antar aplikasi tidak mengalami hambatan sama sekali. Kecepatan saat membuka aplikasi, serta rendering ketika browsing juga tidak lambat.
Bagi yang senang bermain game, Xperia M2 Aqua juga sudah cukup mendukung. Game seperti Riptide GP 2 maupun Ashpalt 8 bisa dijalankan dengan baik.
Kenyamanan tersebut tidak lepas dari minimnya kustomisasi yang diberika Sony pada UI yang ada. Dengan hanya sedikit perombakan minor dari Android murni, kinerja dari ponsel berbasis KitKat 4.4.2 ini tidak terbebani.

Di atas kertas, kapasitas baterainya memang kecil, hanya 2.300 mAh saja. Dalam pemakaian normal untuk sekadar chatting, browsing, menyetel musik, serta sesekali menonton video, ponsel satu ini bisa menyala 14-15 jam dengan screen on time sekitar 3 jam.
4. Kamera
|
|
Untuk kondisi remang, ponsel ini masih cukup bisa andalkan. Dengan ISO maksimal ada pada angka 1600, pengambilan foto dengan pencahayaan yang kurang masih bisa dilakukan. Meski begitu tangan harus ekstra stabil untuk hasil terbaik dan bersiap dengan noise yang akan bermunculan pada foto.
Untuk bisa memaksimalkan resolusi 8MP, pengguna harus mengubah rasio foto menjadi 4:3. Sedangkan untuk 16:9, resolusi foto hanya maksimal 5MP saja. Tidak ada perbedaan yang berarti di antara keduanya kecuali soal tingkat detil pada foto.
Di bagian depan, resolusi VGA rasanya memang terbilang mengecewakan. Untuk selfie jelas bukan pilihan yang baik, namun jika ada di tempat dengan cahaya yang sangat baik, kamera depan ini masih bisa dikategorikan cukup.
Pilihan mode pengambilan foto memang tidak sebanyak versi premium. Namun fitur AR effect, picture effect, serta time shift masih ada pada Xperia M2 Aqua. Berbagai setelan untuk ISO, white balace, fokus, dan metering juga tetap bisa diakses lewat mode manual.
Untuk sektor video, rekaman beresolusi 1080p 30fps bisa diakomodasi oleh kamera utama. Sedangkan untuk kamera depan resolusinya hanya 480p. Kualitasnya standar saja, tapi audionya sudah terbilang baik.






Hasil jepretan kamera depan.
5. Kesimpulan
|
|
Untuk menjalankan aktivitas dasar, Xperia M2 Aqua sudah sangat mencukupi. Proses yang cepat pada berbagai tugas membuat pengguna rasanya cukup nyaman saat memakainya.
Sektor kamera memang hanya dilengkapi resolusi 8MP saja, tapi dengan kemampuan untuk dibawa ke dalam air hingga kedalaman 1.5 meter untuk 30 menit tentu menjadi pembeda.
Harga Rp 3 jutaan mungkin akan terlihat kemahalan, tapi dengan adanya fitur premium tadi, serta dukungan konektivitas 4G, maka semuanya bisa dikatakan wajar.
(ash/ash)