Dengan nama Bamboo Pen & Touch, tablet Bamboo generasi kedua ini dapat dikatakan sebagai tablet interaktif pertama yang memadukan teknologi multi-touch. Penggunaannya pun sangat mudah dengan sentuhan yang sangat sensitif layaknya iPhone besutan Apple.Β
Unboxing Pertama Kali
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah mengamati isi CD dan menginstal driver di dalamnya, kini saatnya membuka bungkusan putih yang di dalamnya terdapat pen tablet generasi dua tersebut.
Tipis dengan desain yang atraktif, adalah kesan pertama yang didapatkan saat melihat papan hitam tersebut. Dengan lampu LED yang menyala-nyala di tengah serta stylus yang dilengkapi 2 tombol, memberi kesan simple nan mewah dari Bamboo Pen & Touch tersebut.
Meki konon dirancang untuk pengguna awam, balutan warna hitamnya tak bisa menghilangkan citra bahwa ini adalah alat yang ditujukan bagi para profesional. Warna hitam itu pun memperkuat kesan mewah perangkat itu.
Responsif Sih, Tapi...
Saat dijajal untuk membuat sebuah project dengan Adobe Photoshop Element 7.0, detikINET tak menemukan kendala suatu apapun. Stylus yang dimilikinya terasa cocok digunakan untuk pengguna yang memiliki jenis tangan besar ataupun kecil. Sangat responsif dan sensitif. Bahkan pengguna bisa menentukan ketebalan goresan saat digunakan untuk menggambar sebuah vektor grafis, vektor mania pasti sangat cocok dengan produk ini.
Kemudian, detikINET mencoba untuk melakukan color-correction pada sebuah foto dengan resolusi tinggi. Hasilnya pun luar biasa. Bagi pengguna yang sudah terbiasa dengan software Adobe Photoshop, mereka bisa merasakan sensasi baru dalam mengedit foto. Apalagi jika mereka sudah hapal di luar kepala shortcut key di Photoshop --semisal dodge tool ataupun burn tool. Sementara tangan kanan menggoreskan stylus, tangan kiri mengoperasikan keyboard. Sungguh nyaman dan asyik.
Kemudahan dan rasa nyaman saat bekerja dengan Bamboo generasi dua ini, nampaknya berbanding terbalik pada saat digunakan untuk melakukan navigasi pada Windows. Mungkin karena terlalu sensitif, fitur multi-touch yang digadang-gadang ternyata tidak sesuai yang diharapkan.
Alhasil butuh penyesuaian lama agar terbiasa dengan Bamboo Pen & Touch ini saat ingin digunakan sebagai pengganti mouse, dalam mengeksplorasi Windows.
Saat digunakan untuk membuka Google Map, misalnya. Seolah jari-jari ini kurang berjalan dengan lincah dan responsif. Malah terkesanΒ merepotkan dan masih lebih enak menggunakan mouse biasa untuk men-scroll-up peta.Β Β
Kesimpulan
Pada dasarnya, lewat Bamboo Wacom mungkin ingin memperluas pasarnya ke level pengguna awam. Bentuk dan kisaran harga Bamboo generasi kedua sukses mencerminkan keinginan ini.
Produk ini memang sangat nyaman untuk digunakan dalam pekerjaan grafis. Software-software grafis terkemuka seperti Adobe Photoshop, Corel, Adobe Illustration hingga piranti lunak open source The GIMP terbukti bisa menerima Bamboo sebagai alat bantu desain yang cocok.
Sayangnya, produk ini tidak bisa menjadi alat navigasi yang mantap. Saat dicoba, fitur-fitur multi-touch-nya malah terkesan kurang enak saat digunakan sebagai pengganti mouse.
Bagi pengguna awam yang ingin belajar grafis, Bamboo Pen & Touch ini sangat layak menjadi teman setia dalam mengasah skill. Seiring kemampuan dan kebutuhan yang meningkat, pengguna perlu beralih ke jajaran tablet Wacom lainnya yang lebih ciamik.
Pengguna awam yang ingin memanfaatkan produk ini untuk sekedar 'bermain-main' juga tidak akan rugi. Pasalnya produk ini dibanderol dengan harga terjangkau, yakni US $80. Berminat?
Kelebihan :
+ Harganya terjangkau
+ Bonus Software Adobe Photoshop Elements 7.0
+ Cocok bagi desainer grafis pemula
Kekurangan :
- Multitouch kurang terasa nyaman untuk navigasi
- Driver perlu diinstal, tidak plug-and-play
Dalam review ini, detikINET menggunakan sistem berbasis Prosesor Intel Core i7 965, Intel DX580SO, Digital Alliance GTX 260, Corsair HX1000W, Corsair Dominator 6GB kit dan sistem operasi Windows 7. (fw/faw)