Meski menargetkan terjual 2000 unit setiap bulannya, namun sayang, Mito mengaku tak tahu pasti ke mana target pelanggan akan disasarnya. Padahal mengetahui pasar yang akan dibidik ialah kunci utama suatu program marketing.
"Memang, pangsa pasar PDA tidak banyak, segmented, mungkin 95 persen di kota-kota besar saja. Nanti, akan kami coba pasarkan ke komunitas," jawab Shirley Imanata, Marketing Manager Mito Mobile, ketika ditanya tentang prospek bisnis PDA bagiΒ produsen ponselΒ merek lokal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami memang baru sekadar coba-coba dalam bisnis PDA ini, jualan utama kami tetap smartphone biasa. Ya, dengan adanya produk ini tentu bisa menaikkan gengsi," paparnya lebih lanjut.
Shirley pun mengakui bahwa muatan lokal yang ada pada ponsel ini cuma ada di merek dagang produknya saja. "Sementara untuk PDA, kali ini kami rakit dari Taiwan karena mereka bagus untuk produksi PDA."
Terlepas dari itu semua, spesifikasi produk yang dibanderol Rp 4,5 juta ini memang terbilang unik. Sebab, memiliki fitur telekomunikasi menggunakan dua kartu yang beroperasi di jaringan GSM dengan kemampuan yang berbeda.
Kartu SIM pertama memiliki kemampuan Quad Band (850/900/1800/1900 Mhz) yang dapat mengakses GPRS class 10. Lewat kartu SIM ini dapat dilakukan conference call, call waiting, dan 3 way call.
Sedangkan kartu SIM kedua tidak memiliki fasilitas penuh GSM. Sebab, layanan hanya bekerja pada dual band (900/1800Mhz). Mito 9000 memiliki dimensi 111x58x15,7 milimeter dan bobot 123 gram.
Mito 9000 juga memiliki prosesor ARM RISC yang berkapasitas 32 bit dengan clock frekuensi 400MHz. produk ini juga dilengkapi dengan slot memori yang sanggup menyimpan beragam file hingga 2 Gigabyte.
(rou/wsh)