Selasa, 01 Mar 2016 19:55 WIB

Kevin Aluwi Masuk Forbes: Go-Jek Bukan Cuma Nadiem Makarim!

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: afr/detikINET Foto: afr/detikINET
Jakarta - Go-Jek selalu identik dengan sosok Nadiem Makarim sebagai pendiri sekaligus CEO dari penyedia layanan ojek online itu. Padahal ada seseorang lagi yang tak kalah penting dalam melambungkan perusahaan itu.

Ia tak lain adalah Kevin Aluwi, Chief Financial Officer (CFO) sekaligus Co-Founder Go-Jek. Sosoknya memang kalah berkilau dibanding Nadiem. Namun namanya makin dikenal dan menjadi pusat perhatian lantaran masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia.

Saat ditemui detikINET di markas Go-Jek yang berada di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kevin mengaku tidak percaya bisa masuk dalam daftar anak muda yang dinilai sebagai pemimpin muda yang menjanjikan, wiraswastawan yang berbakat ataupun game changer.

"Pihak Forbes menghubungi saya Oktober lalu. Mereka mengirimkan email pertanyaan untuk dijawab. Sehari sebelum diterbitkan baru dikasih tahu kalau saya masuk dalam daftar. Rasanya tidak percaya," cerita pria kelahiran Jakarta ini.

Mendapat apresiasi seperti ini, jelas membuat Kevin bangga. Namun ia mengaku tidak pernah mengejar penghargaan tersebut ataupun popularitas lainnya.

"Gue tahu Forbes dari kecil. Masuk di dalamnya tentu bangga. Tapi tidak pernah mengejar penghargaan karena gue juga tidak terlalu suka ngebandingin dengan orang lain. Apa yang gue kerjain sekarang memang seru," ujarnya.

"Tapi penghargaan ini (Forber 30 Under 30 Asia) membuat ekspektasi gue jadi terdorong," imbuhnya.

Suka Startup


Meski mengenyam pendidikan bidang finansial di University of Southern California, hal tersebut tidak membuat Kevin tertarik berkarier di bidang keuangan. Ia lebih memilih berkecimpung di industri teknologi.

"Gue itu passion-nya di teknologi, mungkin karena dulu suka main game. Tapi memang gue tertarik dengan inovasi berbasis teknologi. Lihat saja banyak perusahaan yang mengubah kehidupan kita itu berbasis teknologi," tutur Kevin.

Karena itu setelah sempat bekerja 1,5 tahun di Amerika Serikat, tahun 2012 ia pulang ke Indonesia dan bekerja di perusahaan inkubator startup, Merah Putih. Selepas itu, Kevin sempat bekerja di Zalora sebelum akhirnya menjadi CFO di Go-Jek.

Meski berstatus CFO Go-Jek, kerjaan Kevin tidak sebatas mengurusi segala hal terkait keuangan. Ia mengaku terjun langsung menemui investor, membangun tim online marketing, tim data dan analisis.

"Apapun yang berhubungan dengan angka dan analisis, gue yang ngerjain," ujarnya.

Dikatakan pria yang menyukai game Dota dan Counter Strike ini, dirinya turut menyusun stategi perusahaan bersama Nadiem. Pasalnya strategi yang dibuat berdasarkan data yang telah ia analisis.

Kevin lantas mencontohkan pada awal Go-Jek hadir, tersedia layanan ride, kurir dan belanja. Dari data didapat 85% pengguna banyak melakukan pemesanan makanan. Akhirnya Go-Jek merilis layanan Go-Food.  

"Dari data, kami bisa buat bisnis apa yang dapat dijalankan. Atau bagaimana membuat bisnis yang dijalankan lebih optimal," jelas Kevin.

Membangun Go-Jek Bersama Nadiem


Kevin pun menceritakan awal mula pertemuannya dengan Nadiem hingga sukses membangun Go-Jek. Pertemuan keduanya bermula sembilan tahun lalu. Mereka tidak terlalu dekat kala itu, sekadar teman main saja.

Barulah ketika sama-sama kerja di Zalora, hubungan Kevin dan Nadiem makin erat. Nadiem sering mengajak Kevin berdiskusi soal Go-Jek yang saat itu tidak telalu diurus.

"Selain karena kesibukan Nadiem sendiri, market pada saat itu masih belum siap. Penetrasi smartphone masih kurang karena masih mahal. Ditambah lagi pengguna internet masih rendah. Ini membuat kondisi Go-Jek stagnan," tutur pria kelahiran 1 September 1986 ini.

Dari serangkaian diskusi itu, keduanya akhirnya memutuskan untuk mengarap Go-Jek lebih serius. Pada 2014, Nadiem dan Kevin terjun langsung membesarkan Go-Jek. Keputusan ini jelas tidak salah, karena Go-Jek mengalami kesuksesan dalam waktu singkat sebagai salah satu penyedia layanan transportasi masyarakat di Jakarta.

Namun demikian, kata Kevin, kesuksesan yang begitu cepat bukan didapat dengan mudah. Begitu banyak masalah yang harus mereka hadapi. Di awal membangun Go-Jek misalnya, banyak pihak yang ragu akan keberlangsungannya.  

"Cari orang saja susah. Mau partnership dengan perusahaan ternama ditolak. Belum lagi pertanyaan dari orang-orang dekat yang menganggap bisnis ini kurang prospeknya," kenang Kevin.

Namun setelah aplikasi Go-Jek meluncur dan mulai banyak driver yang terlihat di jalanan, semua keraguan tersebut mulai gugur. Dalam waktu cepat, Go-Jek pun melesat. Semula hingga akhir 2015, mereka menargetkan 4.000 driver. Nyatanya, malah tembus jadi 200 ribu driver.

Tapi menurut pria berkacamata ini, terlalu cepatnya perkembangan Go-Jek menghadirkan berbagai masalah baru yang kadang memusingkan kepala.

"Infrastruktur kita itu masih untuk perusahaan kecil. Karyawan pun belum siap untuk lompatan yang begitu cepat," ujarnya.

Untungnya dengan kesolidan tim, kata Kevin, semua masalah yang timbul malah membuat Go-Jek terpacu untuk makin baik lagi. Ia pun berharap  Go-Jek yang telah mendarah daging di Jakarta bisa menjadi layanan yang sama di seluruh kota besar di Indonesia.

"Semoga Go-Jek dapat menjadi contoh untuk masuk ke industri. Bukan tidak mungkin orang Indonesia menciptakan sesuatu yang bisa dipakai di masyarakat luas. Bisa membantu kehidupan orang lebih praktis," pungkas Kevin.

(rou/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed