Senin, 20 Feb 2012 12:27 WIB

Sosok

Nukman Luthfie: Eat, Pray, Tweet ala Indonesia

- detikInet
Jakarta - "Jaman sekarang sepertinya jarang orang kecopetan ponsel. Lha ponselnya dipegang terus kok, dipelototi terus," kelakar Nukman Luthfie seraya menirukan tingkah pengguna gadget dengan lucu.

Candaan Nukman benar adanya. Pemandangan seperti itu bisa dengan mudah kita temukan di mana saja. Ibaratnya, ponsel berpadu dengan social media seperti Facebook dan Twitter mampu membuat orang di pusat perbelanjaan, di halte bus, di hampir semua tempat, berjalan menunduk, sibuk berjejaring sosial.

"Sebagian besar pengguna social media itu akan ketagihan. Anytime dia bisa ngetweet atau update status dia akan update,” kata pengamat social media ini.

Ya, bukan asal jeplak, kenyataannya fenomena tersebut memang sudah merasuk dalam kehidupan sehari-hari. Akses ke internet menjadi tak terbatas, dipicu oleh maraknya penggunaan perangkat mobile.

Begitu booming, sampai-sampai media luar negeri The Economist pernah memuat artikel berjudul "Eat, Pray, Tweet" sebagai plesetan dari judul film "Eat, Pray, Love" yang dibintangi Julia Robert untuk menggambarkan fenomena social media di Indonesia.

"80 persen gadget di Indonesia sudah bisa dipakai internetan. Bahkan ponsel murah sekalipun," kata ayah tiga anak ini. Sebanyak 46 persen pengguna perangkat mobile rajin ngetweet dan 48 persen rutin mengecek Facebook saat akan tidur atau bangun tidur.




Transformasi Mengkonsumsi Media

Begitu mudahnya akses ke dua jejaring sosial populer tersebut di genggaman tangan, menurut Nukman juga turut mengubah cara orang mengkonsumsi media. Menariknya, social media saat ini mendahului semua media lain dalam hal menyampaikan informasi.

"Behavior ini membuat point of contact kita berubah. Dulu, pagi-pagi kita membaca koran. Setelah media cetak lalu lanjut ke TV, lantas mendengarkan radio sepanjang perjalanan ke kantor, sampai kantor baru akses internet," papar pria yang doyan ngopi ini.

Pendiri perusahaan konsultan digital marketing Virtual Consulting tersebut memberi contoh kesehariannya. Sebelum memulai aktivitas, dirinya terlebih dahulu mengecek Twitter dan Facebook.

"Pagi-pagi itu, pertama saya baca berita di Detik.com dan Kompas.com. Itu pun seringnya mengakses dari timeline di Twitter," ceritanya.

Setelah itu barulah dia menonton TV, mendengarkan radio lalu membaca media cetak. Twitter dan Facebook tidak ditinggalkannya. Melalui akun Twitter @nukman, semua informasi yang diserap dari berbagai media itu biasanya dia bagi ke followernya.

Dari bangun tidur hingga akan tidur, Nukman tak lepas dari gadget dan social media. Tak hanya Nukman, berdasarkan berbagai riset, sebagian besar pengguna social media di Indonesia saat ini, terutama di kota-kota besar, perilakunya kurang lebih sudah seperti itu.

"Di kantor pun orang kerja sambil akses social media. Bahkan ke toilet gadget dibawa agar tetap terkoneksi. Artinya apa? Orang tidak lepas dari social media," ujar pria yang juga dikenal sebagai Online Strategist ini.

Seraya berkelakar Nukman mengatakan orang jaman sekarang mungkin membaca koran seperti membaca buku bertulisan Arab, yakni dimulai dari belakang. "Dulu orang melihat dari headline di depan untuk mengecek apa yang terbaru. Sekarang yang terbaru sudah mereka dapatkan dari social media. Tapi membaca koran tetap perlu untuk bacaan yang lebih mendalam," tandasnya.




(rns/ash)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed