Pasalnya, wanita yang menghabiskan waktu sebagai tahanan rumah selama 15 tahun dalam 21 tahun terakhir itu terlalu sibuk sehingga tidak sempat nge-tweet atau mengupdate Twitter dan Facebooknya.
"Saya tidak punya cukup waktu. Jika saya mengupdate Twitter atau Facebook, ini akan menyita waktu saya," kata penerima Nobel perdamaian ini, dilansir AFP dan dikutip detikINET, Senin (19/9/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, dulu kehadiran Suu Kyi di jejaring sosial begitu dinantikan para pendukungnya. Namun rezim militer saat itu berupaya menghalanginya karena status Suu Kyi yang tengah menjadi tahanan rumah.
Suu Kyi sendiri terilhami dari gerakan people power yang dibantu pemanfaatan jejaring sosial di Tunisia dan Mesir. Setelah dibebaskan pada November tahun silam, Suu Kyi langsung bergabung dengan aktivis revolusi lain dari seluruh dunia menggunakan Twitter dan Facebook.
Sayangnya, koneksi internet di Myanmar menurut Suu Kyi sangat lambat. Dia mendapatkan koneksi internet pertama di rumahnya di Yangon dengan membayar lebih dari USD 1.000 ke penyedia layanan internet yang diawasi junta militer.
(rns/ash)