Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
5 'Dosa Besar' Heins Sebelum Didepak BlackBerry

5 'Dosa Besar' Heins Sebelum Didepak BlackBerry


Susetyo Dwi Prihadi - detikInet

Jakarta -

Thorsten Heins hanya setahun lebih sedikit memangku jabatan CEO BlackBerry. Dinilai gagal mengangkat performa perusahaan, pria asal Jerman ini pun didepak untuk digantikan oleh imigran asal Hong Kong.

Heins mulai menjabat sebagai puncuk pimpinan perusahaan yang dahulu bernama Research in Motion (RIM) ini sejak Januari 2012, namun BlackBerry menggesernya pada November 2013.

Sepanjang lebih dari setahun menjabat sebagai CEO, Heins coba melakukan banyak hal agar BlackBerry bisa kembali bersaing, meski nyatanya belum cukup membuat ponsel ini sejajar dengan iPhone maupun Android.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Memang sepanjang perjalanan karirnya, Heins tak sedikit diliputi kisah suram dalam sepak terjangnya memimpin perusahaan. Apa sajakah itu? Berikut detikINET rangkumkan beberapa di antaranya, Rabu (6/11/2013).

1. BlackBerry 10 Molor

Saat baru menjabat sebagai CEO BlackBerry, Heins diberi amanah untuk mengangkat pamor perusahaan dengan kehadiran sistem operasi BlackBerry 10. Sebuah lompatan dari OS BlackBerry 7.

Sistem operasi ini tadinya digadang-gadang bakal menjadi awal manis bagi Heins yang baru saja menjabat. Awalnya, BlackBery 10 akan dirilis pada tahun 2012. Beberapa acara developer pun sudah digelar untuk persiapannya.

Mulanya, ponsel BlackBerry 10 direncanakan rilis pada tahun 2011, namun kemudian ditunda sampai tahun 2012. Masih ditunda lagi sampai akhirnya BlackBerry Z10 rilis awal Januari 2013.

2. Kurang Inovasi

BlackBerry 10 yang berbasis QNX sebenarnya cukup bagus. OS ini dirancang bekerja tanpa kehadiran tombol fisik, cukup digeser-geser saja atas-bawah-kiri-kanan.

Meski menghadirkan berbagai fitur baru, nyatanya ponsel BlackBerry 10 kurang laris di pasaran. BlackBerry Z10 kabarnya banyak yang menumpuk di gudang.

Banyak pihak menilai, jika saja ponsel BlackBerry 10 dirilis jauh-jauh hari, masih ada potensi bagi BlackBerry melawan dominasi Android dan iPhone.

Inovasi yang menonjol terbilang penting dalam industri smartphone saat ini. Terlebih, begitu banyak vendor yang terjun di dalamnya.

Nah, di Heins gagal meyakini bahwa BlackBerry tak lamban soal inovasi. Ponsel mereka tidak mengalami perubahan berarti, baik dari sisi fitur maupun desain.

Baru saat BlackBerry 10 dirilis, beberapa inovasi dihadirkan seperti kamera TimeScape dan BlackBerry Hub. Namun beberapa pihak menilai kehadiran BlackBerry 10 sudah telat.

Di sisi lain, para vendor Android dan juga Apple menghadirkan inovasi secara kontinyu, baik dalam sisi spesifikasi, desain maupun fitur.

3. Gangguan BlackBerry Messenger

Saat pamor BlackBerry terus meredup, BlackBerry masih mengantungkan hidupnya ke pasar negara seperti Asia dan Timur Tengah. Tapi sayang beberapa kali, di bawah Heins pengguna di Indonesia dikecewakan.

Kekecewaan terjadi karena beberapa kali gangguan terjadi di BlackBerry Messenger dan bahkan sering juga malah tak bisa diakses sama sekali karena gangguan jaringan.

Ini bukan sekali, tapi terjadi dalam beberapa kali. Di Indonesia sendiri, pihak yang terkait sepert Kominfo sudah melayangkan protes. Tapi tetap saja, hal tersebut masih saja terjadi.

4. Lepas BBM ke iOS dan Android

Salah satu nilai jual BlackBerry adalah keberadaan layanan messaging BlackBerry Messenger (BBM). BBM memang termasuk layanan messaging tertua dan menjadi sarana berkomunikasi yang mampu diandalkan.

Seiring berjalannya waktu, BBM tidak lagi menjadi satu-satunya aplikasi messaging yang populer. Pendatang baru berdatangan, sebut saja WhatsApp, Line, WeChat ataupun KakaoTalk.

Aplikasi messaging pesaing BBM itu tidak kalah bagus. Malah mungkin dalam beberapa hal bisa dibilang lebih unggul.

Konsumen pun mulai melirik handset pesaing BlackBerry yang bisa mengunduh layanan sejenis BBM untuk keperluan berkirim pesan. Terlebih lagi sekarang, BBM sudah tersedia lintas platform.

(rou/rou)






Hide Ads