Diakui pria yang sudah akrab dengan kamera ini, dirinya memang bukan tergolong orang yang percaya diri. Namun siapa yang sebelumnya mengira, saat sudah disuguhi foto-foto hasil jepretannya.
Karyanya sudah terpampang di banyak majalah fashion dan life style seperti Elle, Trax, dan lain-lain. Deretan nama-nama di dunia hiburan sudah berhasil ia abadikan melalui lensa kamera.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang orang mengklaim sebagai fotografer itu lebih gampang. Ya gak masalah, eranya sudah seperti ini. Kalau sekarang bisa dibilang prestisenya berkurang. Kalau menurut saya ya," tukasnya kepada detikINET.
Berkenalan dengan kamera jauh sebelum teknologi digital hadir, ia turut merasakan perbedaan yang dialami oleh seorang fotografer. "Kalau analog kita mikir, cahaya gimana, kita gak boleh missed. Seteleh dibawa ke cuci cetak baru ketahuan hasilnya. Dulu, kita mikir dulu baru jepret dengan asumsi apa yang kita pikir sudah bener. Sekarang, jepret dulu baru mikir," lanjut pria berkacamata ini.
Β

Β
(Photo Credit: Eddy Sofyan)
Sampai saat ini, Eddy mengaku tak bisa melakukan DI (Digital Imaging). "Saya mau balikin fotografi, kalau edit paling sebatas kontras, gelap dan terang," tukasnya. Untuk urusan ini, ia sepenuhnya menyerahkan pada bagian artistik.
Dari Lapangan Hijau ke Ruang Studio
Perkenalan dengan kamera dimulainya saat menyandang status mahasiswa di Perbanas. Sangat jauh dari dunia fotografi. Ia mengaku berkuliah di sana karena mendapatkan beasiswa atas bakatnya di sepakbola.
Ya, sosok ini dulu sangat akrab dengan lapangan hijau. Di perbincangan selanjutnya, ia menceritakan kiprahnya sebagai atlit sepakbola yang juga pernah terjun di berbagai liga. Sayang karena cedera yang ia alami di sekitar tahun 1998, passionnya itu terpaksa terhenti.
Ketertarikannya memotret profile, pekerjaan yang kini ia miliki, bermula saat ditahun 90-an ketika seorang teman memberinya winter collection milik Guess. "Kalau foto ya kayak gini," pikirnya kala itu. Berhenti dari sepakbola, ia makin tekun belajar foto.
Kemampuannya mendalami fotografi adalah secara otodidak. Buku dan belajar dari teman merupakan resepnya. Saat itu, internet memang belum merakyat seperti sekarang.
Sekarang ia menuai hasilnya. Pekerjaan yang menuntutnya menghasilkan foto profile hingga foto konser menjadi 'makanan' sehari-hari. Bagi pecinta 'dunia' seperti ini, pekerjaan tersebut terdengar mengasyikkan.
Ia pun dipercaya menjadi fotografer 'tak resmi' salah satu band papan atas Indonesia, Noah. Kedekatannya ini alhasil memberikan kesempatan bagi Eddy untuk menangkap moment-moment personal mereka.
Namun dari sederetan public figure yang pernah ia potret. Eddy rupanya masih memendam keinginan untuk memotret secara khusus dua sosok ternama Tanah Air. Mereka adalah Iwan Fals dan Pak Raden.
Di mata pria kelahiran Jakarta ini, Iwan Fals adalah sosok yang ikonik, selain ia juga mengaguminya dari sisi musikalitas. Lantas untuk Pak Raden, ia menganggapnya sebagai karakter dan sosoknya yang unik dan ikonik.
Selain masih bergelut dengan pekerjaan utamanya sebagai jurnalis foto di salah satu majalah musik, Eddy kini tengah disibukkan dengan proyek buku Noah.
"Bisa dibilang saya berangkat dari hobi yang lantas jadi kerjaan. Kerjaan kalau dari hobi itu, kepuasan sendiri lebih penting," tukasnya ramah.
Karyanya yang sudah dimuat di berbagai media ataupun untuk kepentingan personal subyeknya sebagian besar memakai Nikon D300s.
"Saya nggak ribet. Kebanyakan foto-foto saya simple. Sama saya butuh flash. Yang penting tahu kebutuhan dan punya setetingan sendiri. Untuk pemotretan outdoor di luar studio, flash dua cukup, sama payung," lanjutnya. Dan berikut beberapa hasil bidikannya:





(Photo Credit: Eddy Sofyan)
(sha/ash)