5 Aplikasi Mirip PeduliLindungi di Luar Negeri, Secanggih Apa?

5 Aplikasi Mirip PeduliLindungi di Luar Negeri, Secanggih Apa?

Aisyah Kamaliah - detikInet
Jumat, 10 Sep 2021 13:46 WIB
Saudi police woman, Bashair, left, adjusts the veil of her colleague Alaa, as they recently deployed to the service at the Grand Mosque, during the annual hajj pilgrimage, in the Saudi Arabias holy city of Mecca, Tuesday, July 20, 2021. (AP Photo/Amr Nabil)
Aplikasi yang digunakan berbagai negara untuk tracing COVID-19. (Foto: AP/Amr Nabil)
Jakarta -

Aplikasi tracing kasus COVID-19 di luar negeri juga banyak. Jika Indonesia punya PeduliLindungi, ada banyak nama-nama aplikasi punya luar negeri yang bertujuan sama -- untuk memantau pasien dan mencegah penularan.

Dirangkum detikINET dari berbagai sumber, Jumat (10/9/2021) ini dia daftar nama aplikasi sejenis PeduliLindungi yang dipakai oleh negara lain. Secanggih apa?

1. Tawakkalna (Arab Saudi)

Kita mulai dari Jazirah Arab Saudi yang menggunakan aplikasi Tawakkalna. Dari penjelasan pemerintah, aplikasi ini bertujuan mencegah penyebaran virus SARS-CoV-2 dengan pelacakan ketat dan status vaksinasi seseorang. Aplikasi ini menyediakan informasi langsung angka infeksi COVID-19 di sana dan membantu dalam deteksi.

Tawakkalna memungkinkan warga dan penduduk untuk meminta izin bergerak jika diperlukan selama jam malam; menindaklanjuti status permintaan izin mereka selama jam malam; dan beri tahu mereka ketika mereka dekat dengan daerah menular atau terisolasi. Melalui aplikasi, warga Arab Saudi juga dapat melaporkan kasus dugaan COVID-19 untuk membantu individu menerima perawatan kesehatan yang mereka, atau orang lain, butuhkan.

2. AarogyaSetu (India)

Mengutip DW, India meluncurkan aplikasi 'AarogyaSetu' untuk membantu pelacakan pasien COVID-19 dan orang-orang yang kontak dengannya. Aplikasi ini tersedia dengan 11 bahasa dan diluncurkan untuk iOS dan Android. AarogyaSetu menggunakan bluetooth untuk mengetahui adakah kasus corona ada di dekat mereka.

3. Smart Management System (Korea Selatan)

Korea Selatan adalah salah satu negara pertama yang mengalami wabah virus corona dan menggunakan pengujian dan teknologi besar-besaran untuk muncul sebagai studi kasus untuk mengendalikan jumlah kasus secara nasional.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan menjalankan Smart Management System (SMS) COVID-19, sistem pelacakan yang berjalan melalui aplikasi ponsel cerdas dan membantu pihak berwenang menganalisis pergerakan pasien dan mereka yang dikarantina.

Korea Selatan juga akan mulai memasangkan gelang elektronik pada mereka yang mengabaikan perintah karantina di rumah. Penolakan untuk menggunakan band ini akan mengakibatkan orang tersebut dipindahkan ke tempat penampungan yang harus mereka bayar sendiri.

4. Alibaba dan Tencent (China)

China memanfaatkan aplikasi yang sudah ada dan banyak penggunanya yakni Alibaba dan Tencent untuk mendapatkan health code system. Pengguna memindai kode QR untuk berbagi informasi tentang status kesehatan dan riwayat perjalanan mereka. Kode-kode ini perlu dipindai sebelum naik bus dan kereta api atau memasuki bandara, kantor, dan bahkan kompleks perumahan mereka sendiri.

Warna yang berbeda pada aplikasi menunjukkan tingkat risiko yang berbeda, dengan kode hijau untuk pergerakan yang tidak dibatasi, kode kuning untuk tujuh hari karantina, dan kode merah untuk mereka yang membutuhkan 14 hari karantina.

Aplikasi dapat melacak apakah pengguna telah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi.

5. COVIDSafe (Australia)

Australia telah meluncurkan aplikasi untuk melacak mereka yang telah melakukan kontak dengan pasien yang dikonfirmasi. Menggunakan sinyal wireless Bluetooth, aplikasi COVIDSafe memungkinkan pejabat kesehatan mengakses informasi penting terkait interaksi seseorang jika mereka tertular virus. Semua nomor ponsel dalam jarak 1,5 meter dari orang yang terinfeksi - selama 15 menit atau lebih - akan disimpan.

(ask/fay)