Kecerdikan WhatsApp Meredam Signal dan Telegram

Kecerdikan WhatsApp Meredam Signal dan Telegram

Fino Yurio Kristo - detikInet
Senin, 01 Mar 2021 13:09 WIB
Ilustrasi WhatsApp
Aplikasi WhastApp. Foto: dok. Rawpixel
Jakarta -

Aturan privasi baru WhatsApp yang kontroversial membuat banyak orang berpaling pada layanan pesaing, utamanya Telegram dan Signal. Akan tetapi WhatsApp tidak tinggal diam dan pada akhirnya, dinilai mampu meredam gejolak ini.

WhatsApp sebelumnya mungkin tak menduga aturan privasi baru itu meresahkan user, utamanya karena kebijakan berbagi data dengan Facebook. Download Telegram dan Signal pun langsung melesat, pengguna mereka tumbuh jutaan dan menempati ranking satu aplikasi terpopuler di sejumlah negara.

WhatsApp pun mulai sadar dan gencar melakukan sosialisasi, terutama dengan pesan bahwa pesan pengguna tetap aman karena ada penyandian secara default. Tidak ada yang bisa membaca komunikasi pengguna kecuali pengirim dan penerima.

Di sisi lain, aturan privasi baru itu juga ditunda penerapannya dan konsekuensinya diperlunak. Dari sebelumnya menghapus akun pengguna yang tidak menerima aturan privasi, akhirnya mereka tetap bisa memakai WhatsApp meski fungsi mengirim dan menerima pesan dibatasi jika tetap tidak menerima kebijakan baru di tanggal 15 Mei mendatang.

"WhatsApp saat ini berada di puncak download di iPhone dan Android dan lebih menarik lagi, kompetitornya yang paling serius telah terbenam. Signal meroket setelah kecaman pada WhatsApp, dipicu oleh headline media. Namun keramaian itu telah meredup," sebut Zak Doffman, pakar keamanan siber dalam kolomnya di Forbes seperti dilihat Senin (1/3/2021).

Untuk meredam Signal, WhatsApp tidak menyasar sekuritinya yang memang lebih baik. Namun demikian, sosialisasi terus menerus WhatsApp pada 2 miliar penggunanya bahwa mereka tetap aman, mungkin membuat popularitas Signal semakin menurun.

Beralih ke Telegram yang jumlah penggunanya sudah tembus 500 juta user. WhatsApp pun menyasar titik lemah Telegram, bahwa pesan yang dikirim di aplikasi ini tidak secara default dilindungi oleh enkripsi end to end.

"Kami melihat beberapa kompetitor kami mencoba mengklaim bahwa mereka tidak bisa melihat pesan orang. Jika sebuah aplikasi tidak menawarkan enkripsi end to end secara default, maka artinya mereka bisa membaca pesan Anda," sebut WhatsApp belum lama ini.

Walau tak menyebut nama, jelas bahwa yang dimaksud WhatsApp adalah Telegram. Kecerdikan strategi WhatsApp itu dinilai ampuh membuat mereka relatif tidak tergoyahkan meski akan tetap menerapkan aturan privasi baru di 15 Mei nanti.



Simak Video "Telegram Sambut 70 Juta Pengguna Baru Usai WhatsApp Down"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)