Google Luncurkan Aplikasi Penelitian Kesehatan

Google Luncurkan Aplikasi Penelitian Kesehatan

Josina - detikInet
Kamis, 10 Des 2020 18:49 WIB
XIAN, CHINA - NOVEMBER 20: (CHINA OUT) An etiquette girl is reflected on a big screen at the Googles 2008 Xian winter marketing forum on November 20, 2008 in Xian of Shaanxi Province, China. Google has covered in China most of the commercial value of users, 88 percent of search products and user information in the use of Google. (Photo by China Photos/Getty Images)
Foto: GettyImages
Jakarta -

Belum lama ini Google telah mengumumkan bahwa mereka meluncurkan aplikasi penelitian kesehatan di perangkat Android. Dengan aplikasi tersebut memungkinkan siapa saja untuk berpartisipasi dalam studi medis.

Aplikasi ini dinamai Google Health Studies yang akan meneliti penyakit terkait pernapasan seperti flu dan COVID-19. Peserta yang tergabung dalam penelitian ini akan menggunakan aplikasi seperti melaporkan gangguan pernapasan apapun gejalanya, tindakan pencegahan penyakit dan apakah gejala tersebut terkonfirmasi COVID-19 atau flu biasa.

Aplikasi ini akan mengumpulkan data demografis seperti usia, jenis kelamin, dan ras.

"Peneliti dalam studi ini dapat memeriksa tren untuk memahami hubungan antara mobilitas seperti jumlah perjalanan harian yang dilakukan seseorang di luar rumah dan penyebaran COVID-19," tulis Google dalam siaran pers yang dilansir detikINET dari The Verge, Kamis (10/12/2020).

Aplikasi akan mengirimkan data ke peneliti menggunakan teknik yang disebut pembelajaran federasi, yang akan mengumpulkan tren gabungan dari beberapa perangkat. Dibandingkan dengan menggunakan informasi dari setiap peserta secara individual.

Dibuatnya apliaksi Health Studies ini adalah sebagai jawaban Google terhadap aplikasi Riset Apple yang berjalan di perangkat iOS. Pada tahun lalu mereka telah meluncurkan studi tentang siklus menstruasi, mobilitas kesehatan jantung, serta pendengaran.

Apple juga memungkinkan peneliti membangun aplikasi iPhone mereka sendiri melalui program ResearchKit. Studi yang dijalankan melalui aplikasi akan memiliki peringatan yang sama seperti penelitian dari produk yang dapat dikenakan komersial lainnya, mereka hanya dapat mendaftarkan orang yang dapat membeli produk seperti ponsel Android.

Data gabungan adalah cara yang baik untuk melindungi privasi, tetapi itu berarti peneliti tidak dapat melihat informasi secara terperinci. Pengguna ponsel Android memiliki pendapatan rata-rata yang lebih rendah daripada pengguna iPhone, yang mungkin merupakan keuntungan untuk Google Health Studies.

"Android mungkin mewakili kumpulan data yang lebih beragam (daripada iPhone). Kami sangat senang dengan kemampuan untuk memanfaatkannya, " ujar John Brownstein, kepala bagian inovasi Rumah Sakit Anak Boston yang mengerjakan studi dengan Google.



Simak Video "Hukuman Denda Rp 362 Miliar dari Turki untuk Google"
[Gambas:Video 20detik]
(jsn/fay)