Gaet Eks Google, WHO Buat Aplikasi Pelacak COVID-19

Gaet Eks Google, WHO Buat Aplikasi Pelacak COVID-19

Agus Tri Haryanto - detikInet
Senin, 11 Mei 2020 13:36 WIB
Portrait of young woman on the street wearing  face protective mask to prevent Coronavirus and anti-smog and using smartphone
Gaet Eks Google, WHO Buat Aplikasi Pelacak COVID-19. Foto: Getty Images/filadendron
California -

Untuk memerangi penyebaran virus Corona di dunia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berencana mengembangkan aplikasi pelacak COVID-19.

Seperti diketahui, sejumlah negara, tak terkecuali Indonesia, berbondong-bondong memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan aplikasi virus Corona tersebut.

Melalui aplikasi, masyarakat tidak hanya mengetahui informasi terbaru dari virus yang menjangkit pernafasan ini, tetapi juga membantu masyarakat untuk konsultasi yang berkaitan dengan virus tersebut dan melacak pergerakan interaksi pasien positif.

Aplikasi yang belum diketahui namanya itu nantinya diperuntukkan bagi negara yang kekurangan SDM untuk mengembangkan aplikasi pelacak COVID-19. Adapun, WHO menggaet eks-pegawai Google dan Microsoft dalam mengembangkan aplikasi tersebut.

"Manfaatnya (aplikasi COVID-19) benar-benar untuk negara yang tidak memiliki apa-apa. Kami akan memberikan yang tidak mampu (dengan menyediakan aplikasi COVID-19) di mana negaranya memiliki sistem kesehatan yang rapuh," ujar Kepala Informasi WHO Bernardo Mariano dikutip dari Reuters, Senin (11/5/2020).

Lalu, apa keunggulan aplikasi buatan WHO itu?

Aplikasi COVID-19 WHO itu hampir sama dengan aplikasi yang sudah ada di sejumlah negara. Mariano menyebutkan, orang-orang bisa menanyakan tentang gejala yang mereka serta menawarkan panduan tes Corona, tentunya akan dipersonalisasi sesuai dengan negara pengguna.

Selain memeriksa gejala virus Corona, aplikasi ini juga memungkinkan melacak kontak interaksi dengan pasien positif yang memakai fitur bluetooth.

Rencananya, aplikasi COVID-19 buatan WHO itu akan dirilis pada bulan ini. WHO mengharapkan negara-negara yang ada di Amerika Selatan dan Afrika dapat memanfaatkannya, mengingat jumlah kasus di sana meningkat.



Simak Video "WHO Laporkan Penambahan Kasus Tertinggi Sejak Wabah Corona Terjadi"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)