Badan Litbang SDM Depkominfo Aizirman Djusan mengatakan, dana sebesar itu merupakan hibah dari pemerintah Korsel sebesar 8,9 juta dollar AS dan sisanya dibebankan kepada pemerintah Indonesia dalam bentuk dana pendamping senilai Rp 15 miliar. Dana sebesar itu belum termasuk pembebasan lahan dan pembangunan infrastruktur jalan, listrik dan telepon yang harus disiapkan Universitas Al-Azhar dan pengembang Jababeka.
Training center ini diharapkan selesai dikerjakan dalam waktu dua tahun ke depan dan akan dijadikan sebagai pusat pelatihan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bertaraf internasional yang ditujukan bagi para pekerja dan calon pekerja terampil di bidang TIK dalam upaya meningkatkan kualitas, profesionalisme SDM Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, imbuh Aizirman, training center ini juga diharapkan dapat menjadi centre of excellent dan model percontohan bagi pusat-pusat pelatihan TIK di Indonesia.
Dijelaskannya, training center ini terdiri dari sejumlah gedung dengan luas keseluruhan mencapai 1 hektar dan dibangun di atas tanah seluas 2,5 hektar. Selain sejumlah gedung asrama bagi peserta, pusat pelatihan ini juga memiliki ruang-ruang kelas, laboratorium, auditorium, fasilitas olahraga dan fasilitas lainnya.
"Pembangunan training center ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan kerjasama antara Pemerintah Indonesia dalam hal ini Badan Litbang SDM, Depkominfo dengan Pemerintah Korea (KOICA), yang memberikan hibah atau grant," tukasnya.
Setuju dengan kebijakan pemerintah ini? Diskusikan di detikINET Forum.
(ash/ash)