"BSA bersifat netral terhadap proprietary dan open source. Dalam artian, sepanjang apa yang dibutuhkan masyarakat sesuai dengan kemampuan masyarakat menjangkaunya. Hal itu berperan untuk menurunkan angka pembajakan," ujar Donny A. Sheyoputra, perwakilan Business Software Alliance (BSA) di Indonesia ketika berbincang dengan detikINET.
Namun, BSA hanya bisa menghimbau pengguna untuk jangan menggunakan software bajakan. Sebab menurut Donny, software bajakan hanya menguntungkan pihak yang menjual dan memproduksinya saja. Sementara bagi si pemilik resmi software tersebut tidak mendapat apa-apa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Donny melanjutkan, BSA pada prinsipnya selalu melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk menggunakan software original. "Dan anggota BSA juga ada yang mengembangkan proprietary dan open source, Jadi dalam hal ini kita netral," ia menandaskan.
BSA selama ini dikenal sebagai asosiasi yang menaungi berbagai perusahaan software, hardware serta prosesor. Para anggotanya sebagian memang para produsen kelas kakap, seperti Adobe, Apple, Borland, Cisco Systems, Dell, HP, IBM, Intel, McAfee, Microsoft, SAP, Symantec dan lainnya. Sementara perusahaan software Indonesia yang baru tergabung dengan BSA baru PT Andal Software. (ash/ash)