Co-founder dan Psikolog klinis Veronica Adesla menyebut orang tua dan guru punya peran dalam penerapan Indonesia Game Rating System (IGRS) yang aman bagi anak. Mereka dibutuhkan dalam hal membimbing dan mendampingi anak untuk membantu anak memahami alasan di balik aturan sistem rating.
"Juga memberikan edukasi terkait permainan digital dan perilaku yang aman, sehat, dan bertanggung jawab dalam bermain, serta mengembangkan kemampuan anak dalam mengelola dirinya sendiri," katanya kepada detikINET.
Profesional yang tergabung dalam Ikatan Psikolog Klinis Indonesia ini menyebutkan apa saja yang dapat dilakukan orang tua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, orang tua sebaiknya menunjukkan ketertarikan tanpa langsung menghakimi dan membangun komunikasi terbuka terhadap aktivitas digital anak. Dengan mengusung sikap tanpa menghakimi, anak dapat merasa lebih aman untuk bercerita, termasuk ketika mengalami pengalaman tidak menyenangkan.
"Tujuannya adalah untuk mengenali permainan yang dimainkan anak, memahami daya tariknya, mengetahui dengan siapa anak berinteraksi dan membicarakan pengalaman bermainnya," ujarnya.
Kemudian, orang tua harus menerapkan batasan bermain secara konsisten dan sesuai usia, antara lain jenis permainan, waktu bermain, fitur komunikasi, dan transaksi dalam permainan. Libatkan anak dalam menyusun kesepakatan bermain sesuai usia dan tingkat kematangannya. Dimaksudkan agar anak juga semakin mampu mengembangkan kemampuan mengelola ataupun mengatur dirinya sendiri.
"Orang tua menjadi contoh. Anak lebih cepat belajar dari mencontoh apa yang dilihatnya daripada apa yang didengarnya. Untuk itu sulit mengharapkan anak memiliki kebiasaan digital yang sehat apabila orang dewasa di sekitarnya juga terus-menerus menggunakan gadget tanpa batasan," akunya.
Adapun untuk sekolah, instansi tersebut perlu memberikan pendidikan literasi digital mencakup aspek psikologis. Mereka harus memperkenalkan anak tentang isu keamanan digital, risiko cyberbullying, pengendalian impuls, dampak bermain digital berlebihan, dan cara menghadapi tekanan sosial (teman-teman) dari lingkungan permainan digital/online.
"Anak perlu memiliki kehidupan offline yang menyenangkan dan bermakna. Ketika anak memiliki kesempatan bermain secara langsung, berolahraga, berinteraksi dengan teman, mengeksplorasi minat, dan memperoleh dukungan emosional, permainan digital/online tidak lagi menjadi satu-satunya sumber kesenangan atau satu-satunya hal yang dapat dilakukan ketika sedang merasa tertekan atau sedang merasa tidak baik," tandasnya.
(ask/fay)

