Ada satu paradoks yang jarang dibicarakan di balik gegap gempita adopsi kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia. Negara ini adalah salah satu pengguna AI paling antusias di dunia, tetapi belum memutuskan di bawah tata kelola siapa antusiasme itu akan diarahkan.
Pemerintah mencatat tingkat adopsi AI nasional mencapai 92 persen pada Februari 2026, angka yang menempatkan Indonesia sebagai pasar AI paling bergairah di Asia Tenggara. Namun di saat yang sama, dua Rancangan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan AI Nasional dan Etika AI yang naskahnya sudah rampung sejak Desember 2025 masih mengantre di meja Presiden hingga pertengahan Agustus 2026.
Kekosongan regulasi ini bukan sekadar persoalan administratif. Ia adalah cermin dari posisi Indonesia yang sedang berdiri di persimpangan dua kutub tata kelola AI dunia: model Shanghai dan model Silicon Valley.
Simak Video "Samsung Galaxy Z Fold8 vs Fold8 Ultra: Mana yang Lebih Worth It?"
(fay/fyk)