Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Enam Juta PC di Indonesia Pakai Software Bajakan

Enam Juta PC di Indonesia Pakai Software Bajakan


- detikInet

Yogyakarta - Sebanyak 6 juta atau sekitar 87 persen komputer yang digunakan di Indonesia disinyalir menggunakan software bajakan. Untuk mengurangi angka ini software Open Source perlu dikembangkan sehingga dunia internasional tak lagi semena-mena menetapkan Indonesia sebagai negara pembajak.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ir Lolly Amalia Abdilla M.Sc, Direktur Sistem Informasi Perangkat Lunak dan Konten Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika Depkominfo, dalam Seminar bertajuk 'National Free and Open Source Software for Business strategic and Competitive Advantage for Corporate', di auditorium Magister Manajemen (MM) UGM Jl Teknika Utara, Senin (19/11/2007).

"Open Source perlu dikembangkan agar Indonesia tidak dicap sebagai negara pembajak, software dan sudah termasuk daftar blacklist," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lolly mengatakan, meski sudah ada sanksi hukum yang mengatur bagi pelaku pembajakan namun tetap saja kasus pembajakan belum mengalami penurunan secara signifikan. Selain melanggar UU Haki No 19 tahun 2002, Fatwa MUI bahkan sudah menyebutkan hukum pembajakan adalah haram.

Sehingga, lanjutnya, untuk mengantisipasi pembajakan perlu disosialisaikan lagi program Indonesia Goes Open Source (IGOS) karena sangat bermanfaat bagi masayarakat dan tidak membuang uang ke luar negeri untuk sekadar membayar lisensi. Sebab, dengan Open Source semua gratis dan dapat memunculkan kreativitas serta membuka lapangan kerja. "Selain itu, memakai Open Source keamanan data terjamin sebab software ini bebas dari ancaman virus," katanya.

Lolly menambahkan, sejak diluncurkan tahun 2004 perkembangan pemakaian Open Source masih mengalami hambatan karena belum banyaknya peminat yang menggunakannya. Sebab berbagai kalangan seperti perguruan tinggi dan institusi pemerintah juga belum banyak yang menerapkan IGOS.

"Ini salah satu hambatannya, tapi kami optimis (Open Source) akan terus berkembang. Lagipula, tidak mudah mengajak masyarakat untuk mengadopsi sesuatu yang baru, misalnya memakai software. Mereka sudah terbiasa menggunakan program software yang berlisensi dari luar negeri," tandasnya.

(bgs/ash)





Hide Ads