CEO raksasa ritel online Korea Selatan, Coupang Corp., mengundurkan diri tiga minggu setelah perusahaan menyadari kebocoran data besar-besaran yang berdampak pada hampir 34 juta pelanggan. Coupang menyatakan CEO Park Dae-jun mundur akibat insiden kebocoran data yang terungkap pada 18 November itu.
"Saya sangat menyesal telah mengecewakan publik dengan insiden informasi pribadi baru-baru ini. Saya merasakan tanggung jawab yang mendalam atas kejadian ini dan proses pemulihan selanjutnya dan saya telah memutuskan untuk mundur dari semua jabatan," kata Park.
Induk perusahaan Coupang Inc. menunjuk Harold Rogers, yang sebelumnya menjabat Chief Administrative Officer, sebagai CEO sementara. Coupang mengatakan Rogers berencana fokus meredakan kekhawatiran pelanggan terkait kebocoran informasi pribadi serta menstabilkan organisasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Park, yang bergabung dengan perusahaan pada 2012, menjadi CEO tunggal Coupang pada bulan Mei lalu, setelah perusahaan beralih dari sistem kepemimpinan CEO ganda.
"Perusahaan-perusahaan Korea Selatan dikenal sangat, sangat efisien dalam biaya yang mungkin menyebabkan pengabaian area seperti keamanan siber," ujar Peter Kim, direktur pelaksana di KB Securities.
"Saya pikir masalah intinya di sini adalah kita telah mengalami sejumlah pelanggaran lain, bukan hanya Coupang, tapi sebelumnya juga perusahaan telekomunikasi Korea. Saya mengerti beberapa perusahaan data menganggap Korea sebagai tiga atau empat negara teratas yang paling sering mengalami pelanggaran data secara global dalam hal keamanan TI," cetusnya.
Perusahaan-perusahaan Korea Selatan pernah dilanda insiden keamanan siber sebelumnya, termasuk bulan April di operator SK Telecom yang berdampak pada 23,24 juta orang. Salah satu insiden keamanan siber terbesar terjai tahun 2011, ketika penyerang mencuri lebih dari 35 juta data pengguna dari platform Nate dan Cyworld.
Dikutip detikINET dari CNBC, Nate adalah salah satu mesin pencari paling populer di Korea Selatan, sementara Cyworld adalah salah satu situs jejaring sosial terbesar di negara itu pada awal 2000-an.
Perdana Menteri Kim Min-seok dilaporkan mengatakan tindakan tegas akan diambil terhadap perusahaan jika ditemukan pelanggaran hukum. Polisi juga menggerebek kantor pusat Coupang untuk penyelidikan terhadap kebocoran data tersebut.
Yonhap juga melaporkan, mengutip berbagai sumber, bahwa surat perintah penggeledahan polisi secara spesifik menyebut seorang warga negara China yang sebelumnya bekerja untuk Coupang sebagai tersangka atas tuduhan pelanggaran jaringan informasi dan komunikasi serta membocorkan data rahasia.
(fyk/fyk)