Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Denda vs Kualitas Layanan (3)
'Ruang Kompetisi Harus Tetap Ada'
Denda vs Kualitas Layanan (3)

'Ruang Kompetisi Harus Tetap Ada'


- detikInet

Jakarta - Pemerintah berencana memberlakukan aturan denda kepada seluruh operator telekomunikasi. Tujuannya, supaya para operator selalu memenuhi komitmen tentang kualitas layanan dan jaringan. Berikut tanggapan dari Excelcomindo Pratama (XL) dan Mobile-8 Telecom tentang itu: Presiden Direktur PT Excelcomindo Pratama Tbk, Hasnul Suhaimi:Dari awal, komitmen kita memberikan kualitas layanan yang baik, di manapun kita ada kualitas kita bagus. Tapi memang tidak segampang itu untuk mencapainya. Jadi kita berusaha terus ke arah situ. Standar kualitas yang bagus itu seperti apa?Itu ada aturannya, secara teknis maupun availability. Tapi menurut saya, itu tidak ada artinya. Kita cenderung lihatnya dari sisi pelanggan. Pelanggan pakai, bagus apa nggak, atau jaringannya putus atau nggak, seberapa banyak aduan yang diterima. Secara teknis, pengukuran-pengukuran itu bagus semua. Tapi kalau dari sisi pelanggan, itu susah. Yang paling penting, pelanggan setiap mau pakai ada dan setiap dibutuhkan sinyalnya bagus. Itu menjadi indikator.Apa XL bisa menjaga kualitas?Dalam tiga tahun terakhir, XL sudah menghabiskan investasi US$ 1,7 miliar untuk membangun covarage di seluruh indonesia dan pembangunan kapasitas kualitas. Dari total investasi itu, 40% digunakan untuk kualitas dan 60% untuk covarage.Tahun ini, kita investasi US$ 700 juta. Komposisinya masih sama, 40% untuk pembangunan kualitas layanan. Tahun depan, covarage sudah semakin bagus sehingga kualitas juga semakin baik. XL akan jangkau seluruh indonesia, tapi tentu disesuaikan dengan pasar. Tidak semua kecamatan diisi. Buat apa kalau tidak mengedepankan kualitas? Dan tentunya kita akan jangkau low end prices juga.Jadi perang tarif?XL memang tidak murah-murah amat, tapi dengan kualitas yang kita miliki tentu bisa bersaing dengan pasar karena sebenarnya lebih murah dari yang lain. Ukurannya, prices dibandingkan dengan quality, XL berada di situ. Artinya, dengan harga yang diberikan sekarang tapi kualitas lebih bagus. Sekarang BTS kami sudah hampir 8000.Bagaimana dengan ancaman denda?Kalau operator dan masyarakat sama-sama sadar tentang kualitas, artinya di sini tidak hanya bicara tarif murah. Sebetulnya tidak harus mengatur sampai sedetail-detailnya. Tapi kalau untuk tahap awal, tidak ada salahnya sepanjang transparan. Supaya kita belajar disiplin dan belajar menghargai pelanggan, dan tentunya ruang kompetisi juga masih ada.Director Corporate Affairs PT Mobile-8 Telecom Tbk, Merza Fachys:Kalau regulator mengatur kebijakan sampai sedetail-detailnya itu membuat ngeri operator. Harus ada tolak ukurnya, standardnya menggunakan apa.Konsumen memang harus diliundungi, tapi sebaiknya diserahkan ke operator untuk mengatur sedetail-detailnya sehingga pasar pun bersaing dan masing masing operator memiliki standard. Kalau operator doing better, konsumen pun bisa memilih.Jadi saya kira, yang harus di atur oleh pemerintah adalah bagaimana semua operator membuka kode akses, misalnya, kebijakan fixed wireless access (FWA) bisa jalan-jalan dan banyak lagi. Pemerintah belum perlu mengatur sampai pada level denda. Kalaupun sampai perang tarif, masih di level fair price. Biasanya, yang memunculkan tarif semurah-murahnya itu pendatang baru. Permainan klasik hanya sekedar untuk merebut pelanggan tanpa memikirkan kualitas layanan. Kalau telkomsel main tarif murah, semua (operator) akan habis. XL bermain tarif, yang bereaksi Indosat. Dan seharusnya pemerintah melihat ini, misalnya, buat ketentuan fair price batas atas dan batas bawah sehingga dengan aturan tersebut industri masih ada ruang untuk kompetisi. (rou/wsh)





Hide Ads