Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Dicari, Peneliti TI untuk Tuna Netra!

Dicari, Peneliti TI untuk Tuna Netra!


- detikInet

Jakarta - Penelitian lokal di bidang teknologi informasi bagi kalangan tuna netra dianggap masih kurang, padahal dananya ada. Bagai bensin tanpa mesin. Hal itu diungkapkan Deputi Menteri Riset dan Teknologi (Ristek) Richard Mengko dalam konferensi pers pembukaan "The First National Computer Camp for the Blind" di Auditorium Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Kamis (23/11/2006). Richard berpendapat perlu disiapkan suatu perangkat interaksi antara tuna netra dan komputer. "Kita cuma perlu tools for man interaction with machine. That's it! Karena kan komputernya tidak akan berubah," ujar Richard bersemangat.Ristek, ujar Richard, memiliki dana insentif riset sebesar Rp 50 miliar per tahun. Salah satunya bisa digunakan untuk mendukung penelitian TI bagi tuna netra. "Tapi, kalau yang mengembangkannya saja tidak ada, bagaimana? Ibaratnya, kalau ada bensin tidak ada mesin, bagaimana mau jalan?" ia menambahkan. Kebutuhan itu diamini Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra (YMN), Bambang Basuki. Bambang mengatakan jika tunanetra mendapatkan akses yang baik untuk teknologi informasi dan komunikasi, kehadiran teknologi bisa menjadi anugerah. "Jika tidak, tunanetra akan semakin tertinggal, sementara kemajuan teknologi begitu pesat," ujarnya di tempat yang sama. Pihak LainMitra Netra, menurut Bambang, berupaya untuk mengejar ketertinggalan dengan menggandeng organisasi sejenis yang mempunyai visi sama serta pihak ketiga yang turut mendukung misi mereka. Dari upaya itu, ada sekitar 300 tuna netra yang telah melek komputer. "Itu semua masih jauh dari cukup, belum genap sepuluh kota yang dijangkau YMN," ia menambahkan. Di samping itu, Bambang menambahkan, yang jadi masalah adalah bagaimana program itu bisa berkelanjutan. "Yang YMN mampu lakukan, hanya sebatas mengenalkan, membantu membuka jalan untuk akses TI. Selanjutnya organisasi bersangkutan lah yang harus melanjutkan dan mengembangkannya. Akan tetapi fakta di lapangan seringkali menunjukkan bahwa mereka sering bergantung pada Mitra Netra," kata Bambang.Rekanan Mitra Netra saat ini tersebar di beberapa daerah, termasuk Jabodetabek, Bandung, Jogjakarta, Klaten, Semarang dan Temanggung, Malang, Sidoarjo, Makassar, dan Payakumbuh. Richard pun berharap agar pihak lain, selain YMN, fokus untuk membantu mengembangkan penelitian untuk menjembatani tuna netra dan teknologi. "Kalau tuna netra di Indonesia punya sarana untuk maju, bukan tidak mungkin muncul talenta-talenta baru. Seperti musisi hebat Ray Charles dan Stevie Wonder. Jangan salah, tuna netra bisa melihat yang orang biasa tidak bisa lihat," Richard menandaskan. TTS dan OralinuxUntuk mengatasi masalah itu, Bambang menilai perlu ada dukungan dari pemerintah dan komponen masyarakat yang lebih luas. "First National Computer Camp for The Blind" menurutnya adalah salah satu strategi yang ditempuh guna menumbuhkan kesadaran bersama. Saat membuka acara tersebut, Menristek Kusmayanto Kadiman berjanji akan terus mendorong kebijakan-kebijakan demi meningkatkan penelitian secara nasional. "Termasuk pengembangan teknologi informasi dan komunikasi untuk dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para tuna netra dalam mengakses informasi," tuturnya. Kusmayanto menekankan perkembangan dalam pengembangan aplikasi bagi tuna netra berbasis Open Source Software. "Kegiatan penelitian yang saat ini mendapat perhatian serius dari pemerintah adalah penelitian saudara Arry Akhmad Arman," ujar Kusmayanto. Arry merupakan salah satu peneliti dari Institut Teknologi Bandung yang mengembangkan Text to Speech (TTS) dalam dialek dan Bahasa Indonesia. "Dengan mewujudkan hasil penelitian ini, dan aplikasi Open Source Software, tentunya akan sangat bermanfaat bagi tuna netra di Indonesia," Kusmayanto menambahkan. Lewat program Indonesia Goes Open Source (IGOS), Kusmayanto mengatakan telah lahir piranti bernama Oralinux. Piranti itu menurutnya dapat dimanfaatkan oleh tuna netra sebagai aplikasi screen reader. Menteri mengungkapkan data World Health Organization yang mencatat tingkat kebutaan di Indonesia masih tertinggi di kawasan Asia Tengara. Konon, dalam satu menit terdapat empat orang Indonesia yang mengalami kebutaan. Dan angka itu meningkat terus sebesar 0,1 persen per tahun. Sementara itu, ujarnya, Departemen Kesehatan mencatat 10 persen dari 66 juta anak-anak di Indonesia mempunyai masalah ketidakmampuan refraksi. Sedangkan di sisi lain akses mendapatkan kacamata masih sangat rendah, yaitu sebesar 12,5 persen. (wsh/wsh)





Hide Ads
LIVE