Literasi Digital Bantu Publik Waspada Ancaman Kebocoran Data

ADVERTISEMENT

Literasi Digital Bantu Publik Waspada Ancaman Kebocoran Data

Agus Tri Haryanto - detikInet
Kamis, 25 Agu 2022 18:42 WIB
CEO Enuma, Inc Sooinn Lee mengatakan Setiap anak termasuk yang berkebutuhan khusus berhak mendapat akses literasi dan pendidikan yang berkualitas sejak dini, aplikasi ini diharapkan dapat membantu anak-anak untuk belajar secara mandiri menggunakan platform digital, Rabu, (26/1/2022).
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Jakarta -

Di era canggih seperti sekarang ini, kedaulatan digital menjadi sebuah keniscayaan agar pergerakan nilai dan arus data, baik secara nasional maupun global dapat dikelola dengan baik. Bagaimana Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mewujudkan kedaulatan digital di Indonesia?

Terkait hal tersebut, Kominfo mengungkapkan bahwa saat ini lebih memprioritaskan pada memperbaiki literasi digital masyarakat, terutama menyangkut keamanan data pribadi yang kian marak terjadi belakangan ini.

Disampaikan Tenaga Ahli Menteri Kominfo, Devie Rahmawati, setiap orang memiliki tanggungjawab bersama untuk menjaga kedaulatan negara, yang mana itu tidak semata-mata tugas pemerintah sepenuhnya. Meski demikian, sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk melindungi setiap warga negara, termasuk konteks kedaulatan data.

"Ruang digital nyaris semuanya ruang publik. Menjadi tantangan, karena orang gemar untuk menampilkan informasi pribadi. Ini dilakukan oleh orang-orang yang sebenarnya sudah banyak menggunakan internet. Karena rekayasa sosial yang ada di internet memanfaatkan celah psikologis, membuat mereka seolah tidak sadar untuk membagikan data pribadi ketika berpartisipasi," ujar Devie saat memberikan paparannya saat diskusi virtual Gizmotalk yang digelar Gizmologi bertema 'Tantangan Membangun Kedaulatan Digital Indonesia'.

Kominfo menilai, literasi digital merupakan salah satu cara untuk membantu masyarakat memahami pelindungan data pribadi tingkat dasar. Program literasi digital ini mengingatkan masyarakat untuk menjaga datanya, tak hanya sekadar terampil saja. Etika, budaya, dan keamanan digital, adalah tiga poin utamanya.

"Dari target 10 juta orang, berhasil melampaui target hingga 14 juta orang. Targetkan 50 juta orang di akhir 2024," ungkap Devie.

Ia juga menambahkan, program edukasi tidak akan terhenti di satu generasi. Banyak yang berpikir jika Gen Z adalah kaum yang melek dunia digital. Anak gen Z justru generasi paling baru yang juga paling abai terhadap sekuriti.

"Ini paling berbahaya karena merasa paling tahu, justru paling rentan," ucapnya.

Diskusi virtual Gizmotalk yang digelar Gizmologi bertema 'Tantangan Membangun Kedaulatan Digital Indonesia'Diskusi virtual Gizmotalk yang digelar Gizmologi bertema 'Tantangan Membangun Kedaulatan Digital Indonesia' Foto: Screenshot

Melalui program literasi digital, warganet diharapkan bisa lebih menyadari dan bijak soal apa yang mereka bagikan di media sosial. Menurutnya, edukasi dan literasi digital tidak akan pernah berhenti karena masyarakat saat ini hidup di dua tempat, dunia nyata dan dunia maya, dan ruang digital yang terus berkembang.

Halaman selanjutnya: Kesadaran soal perlindungan data pribadi >>>

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT