Pandemi Hingga Ganguan Keamanan Jadi Alasan BTS 4G Bakti Molor

ADVERTISEMENT

Pandemi Hingga Ganguan Keamanan Jadi Alasan BTS 4G Bakti Molor

Agus Tri Haryanto - detikInet
Kamis, 14 Apr 2022 17:22 WIB
Bakti Papua
Pandemi Hingga Kelangkaan Microchip Bikin BTS 4G Bakti Molor. Foto: Aisyah Kamaliah
Jakarta -

Setidaknya ada lima faktor yang dijadikan alasan oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi Indonesia (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sebagai penghambat mencapai target pembangunan Base Transceiver Station (BTS) 4G.

Untuk pembangunan BTS 4G fase pertama yang menyasar 4.200 desa di wilayah Terdepan, Tertinggal, dan Terluar (3T) tidak tercapai target.

Pemancar sinyal internet tersebut tadinya diharapkan selesai Desember 2021, kemudian alasan pandemi COVID-19, Bakti meminta perpanjangan tenggat waktu hingga 31 Maret 2022, namun sampai saat ini proses pembangunan masih berjalan. Hingga tenggat waktu habis, target ini tidak tercapai.

"Saat ini, rata-rata progres pembangunan BTS 4G fase pertama 1.900 lokasi sudah on air, dan 2.300 lokasi lainnya mencapai 86%," ujar Direktur Sumber Daya dan Administrasi Bakti, Fadhilah Mathar kepada detikINET, Kamis (14/4/2022).

Ada sejumlah faktor yang mengakibatkan belum tercapainya target pembangunan BTS 4G di 3T itu, di antaranya:

  • Tantangan Geografis (Bentang Alam)


Pembangunan BTS 4G yang dilaksanakan BAKTI Kominfo, mayoritas bertempat di desa di daerah 3T yang sangat sulit dijangkau, banyak desa yang belum memiliki infrastruktur dasar seperti jalan yang layak dan aliran listrik, sehingga pengiriman material ke lokasi BTS 4G banyak dilakukan dengan menggunakan sarana transportasi dan pengangkutan logistik yang kurang memadai, misalnya dengan berjalan kaki dan menggunakan gerobak atau menggunakan perahu-perahu tradisional untuk menyeberangi lautan atau sungai-sungai.

  • Hambatan Transportasi, terutama Udara

Banyaknya lokasi-lokasi pembangunan BTS terutama di wilayah pegunungan Papua yang memerlukan transportasi udara untuk sarana pengangkutan material dan peralatan, yang tidak sebanding antara jumlah material dan peralatan dengan ketersediaan transportasi udara. Dapat dilihat bahwa antara tahap MOA dan MOS terdapat kesenjangan pencapaian, menunjukkan bahwa material sudah tersedia di titik di area tersebut, menunggu transportasi ke titik tujuan yang umumnya merupakan medan yang sulit.

  • Pembatasan Mobilitas Barang dan Orang Akibat Pandemi

Adanya pandemi COVID-19 pada tahun 2021, terutama saat gelombang ke-2 di mana sangat berpengaruh pada pelaksanaan aktivitas/kegiatan supply chain pembangunan BTS, dimulai dari penghentian/pembatasan kegiatan fabrikasi material sipil (terutama tower dan pagar), penghentian/pembatasan kegiatan/aktivitas logistik/pengiriman, pembatasan perjalanan yang berdampak pada terbatasnya akses ke lokasi pembangunan BTS 4G, pembatasan pelaku perjalanan hanya yang telah divaksin di mana saat terjadinya gelombang ke-2, ketersediaan vaksin belum dapat diperoleh secara mudah sehingga banyak pekerja yang belum divaksin tidak dapat melakukan perjalanan ke lokasi pembangunan BTS, termasuk juga banyaknya pekerja yang terpapar oleh virus COVID-19 sehingga berakibat pada penundaan pekerjaan.

Hal ini ditunjukkan pada kesenjangan antara pencapaian MOS dengan RFS, yang menunjukkan bahwa material telah siap di lokasi, menunggu pekerja untuk penyelesaiannya. Pada skala nasional, dengan adanya gelombang kenaikan COVID-19 dan imbas dari PPKM yang berakibat pada mundurnya aktivitas manufaktur material proyek, logistic pengiriman material, hingga instalasi, mengalami kemunduran pelaksanaan proyek.

  • Kelangkaan Pasokan Microchip

Adanya kelangkaan yang terjadi secara global (global shortage) pada supply microchip yang juga berdampak pada supply beberapa perangkat telekomunikasi yang digunakan dalam pembangunan BTS 4G.

  • Gangguan Keamanan

Terjadinya gangguan keamanan yang secara spesifik terjadi di Papua, di mana jumlah lokasi BTS yang dibangun di Papua dan Papua Barat mencapai sekitar 65% dari total BTS yang dibangun oleh Bakti di seluruh Indonesia. Pada tanggal 2 Maret 2022 lalu, terjadi serangan penembakan di Kabupaten Puncak yang menewaskan 8 pekerja BTS telekomunikasi. Dari insiden tersebut, pekerjaan implementasi di hampir seluruh di Propinsi Papua dihentikan atas instruksi dari otoritas di Papua.


Sementara itu, pembangunan BTS 4G tahap kedua di 3.704 lokasi akan dilakukan bertahap sesuai dengan ketersediaan fiskal.

"Tahun 2022, anggaran yang ada akan dialokasikan untuk pembangunan BTS 4G di 2.300 lokasi," pungkasnya.



Simak Video "Niat Kominfo di Balik Penyetopan Siaran TV Analog: Demi Internet Merata"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT