Peta Jalan 5G yang Sesungguhnya di Indonesia

Peta Jalan 5G yang Sesungguhnya di Indonesia

Agus Tri Haryanto - detikInet
Rabu, 27 Okt 2021 18:10 WIB
5g
Peta Jalan Menuju 5G yang Sesungguhnya di Indonesia. Foto: M Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta -

Era 5G sudah menyapa Indonesia sejak Mei lalu, namun layanan tersebut belum maksimal karena keterbatasan pita frekuensi. Begini peta jalan alias roadmap spektrum frekuensi untuk implementasi dan pengembangan 5G di Indonesia.

Pita frekuensi eksisting yang saat ini dipakai oleh operator seluler itu mencakup di 450 MHz, 800 MHz, 900 MHz, 1.800 MHz, 2,1 GHz, hingga 2,3 GHz.

Ada tiga operator seluler yang diberikan izin Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk komersialisasi layanan 5G, yaitu Telkomsel, Indosat Ooredoo, dan XL Axiata. Telkomsel pakai spektrum di 2,3 GHz, sedangkan Indosat dan XL pakai 1.800 MHz.

Hanya saja ketiga operator di atas mengalokasikan untuk layanan 5G belum sepenuhnya, karena di saat bersamaan untuk layanan 4G. Sedangkan menghadirkan 5G yang sesungguhnya itu butuh lebar pita 80-100 MHz.

Dalam waktu dekat, 700 MHz menjadi frekuensi berikutnya yang akan dimanfaatkan untuk penggelaran 5G. Spektrum tersebut digunakan penyiaran. Proses migrasi TV analog ke digital atau Analog Switch Off (ASO) berakhir pada 2 November 2022, setelah itu 'frekuensi emas' ini dialihkan penggunaannya.

Ada pula, frekuensi 2,6 GHz yang disebutkan Kominfo akan tersedia pada tahun 2025 atau lebih cepat.

Opsi pertama, dapat dibuka seleksi nasional di 2025 setelah izin frekuensi operator BSS berakhir di 2024. Opsi kedua, dapat dibuka seleksi izin nasional tanpa menunggu berakhirnya izin frekuensi operator BSS, tergantung skema terminasi dini BSS.

Kemudian, frekuensi 3,3 GHz dan 3,5 GHz yang tersedia pada tahun 2023 atau lebih cepat. Spektrum ini dipakai untuk satelit.

Hal itu dimungkinkan dengan dua opsi. Opsi pertama, dapat dibuka seleksi izin nasional di 2022 tergantung pada penuntasan kajian kompetensi terhadpa operator satelit di frekuensi 3,5 GHz. Opsi kedua, dapat dibuka seleksi izin nasional di 2023 sekalian menunggu penuntasan migrasi BWA 3,3 GHz ke 10,5 GHz.

Lalu, frekuensi 26 GHz dan 28 GHz atau dikenal dengan milimeter wave (mmWave) frekuensi yang tergolong tinggi dan cocok untuk penggelaran 5G. Kominfo menyebutkan spektrum ini tersedia 2022 atau 2023.

"Namun, (di frekuensi 26 GHz ini) kami cukup hati-hati karena ekosistem ini sedang dilakukan, bertumbuh. Walau bandwidth besar, jangkauannya kecil, sehingga tidak harus pikirkan bagaimana fiberisasi," ujar Direktur Penataan Sumber Daya Kementerian Kominfo, Denny Setiawan, Rabu (27/10/2021).

Peta Jalan (Roadmap) spektrum frekuensi untuk implementasi dan pengembangan 5G di IndonesiaPeta Jalan (Roadmap) spektrum frekuensi untuk implementasi dan pengembangan 5G di Indonesia Foto: Kominfo

"Ini harus kita pertimbangkan dengan baik karena menyangkut jadi banyak tower, sebab nanti jarak (towernya) cuma 100-200 meter," sambungnya.

Sementara frekuensi 28 GHz, disampaikan Denny, satelit Satria milik pemerintah dan juga lainnya menggunakan frekuensi ini. Untuk itu, Kominfo berhati-hati sehingga dibutuhkan kajian maupun studi potensi interferensi di frekuensi 26 GHz dan 28 GHz ini.

"Tentunya, kita juga melihat benchmark dari negara lain karena ini mmWave, kasus-kasus di lokasi tertentu yang bisa diatur potensi interferensinya, mungkin kita bisa pertimbangkan," pungkasnya.



Simak Video "Jaringan 5G di Denpasar Capai 613 Mbps"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)