'Pemahaman Menkominfo Soal IGOS Masih Terbatas'
- detikInet
Jakarta -
Pemahaman Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Sofyan Djalil mengenai Open Source dan IGOS (Indonesia Goes Open Source) dianggap masih terbatas. Demikian dinyatakan Tikno Sutisna, Marketing Sistem Desktop Nasional (IGOS Desktop) dan Kepala Divisi Jaringan Telekomunikasi Privat PT. INTI. Tikno menjelaskan pemahaman Sofyan Djalil dari sisi teknis masih ada yang perlu ditambah. "Kalau menurut saya mungkin wajar saja, mengingat beliau (Menkominfo-red.) kan menteri, pejabat politik dan bukan praktisi," Tikno menjelaskan kepada detikINET, Kamis (06/04/2006). Tikno bertemu dengan Menkominfo Sofyan Djalil, Rabu malam(05/04/2006). Menurut Tikno, ada kekeliruan dari pihak Sofyan yang berusaha diluruskannya pada kesempatan itu. "Kebingungan membedakan antara Open Source dan IGOS itu merupakan hal utama. Jadi, pikirannya kalau IGOS ya Open Source, Open Source ya IGOS, padahal tidak sepenuhnya begitu," jelasnya.Diungkapkan Tikno, dirinya sampai harus memaparkan bahwa Open Source itu tidak selamanya hanya sistem operasi, melainkan banyak aplikasi-aplikasi lainnya. Ia mencontohkan aplikasi OpenOffice untuk aplikasi perkantoran dan aplikasi lain. Tikno juga menjelaskan bahwa IGOS merupakan konsorsium penggagas Open Source, bukan makna Open Source yang sepenuhnya. "Setelah dijelaskan begitu, baru ada pemahaman, 'Oo..begitu'" demikian Tikno menjelaskan.Namun, lanjutnya, pemahaman yang kurang mendalam bukan berarti pemerintah tidak mendukung IGOS. "Pemerintah support IGOS kok! Bapak (Sofyan Djalil-red.) menyatakan demikian," jelas Tikno. Sebagai bukti, menurut Tikno ada 15 unit komputer Kominfo yang telah diinstalasi aplikasi IGOS belum lama ini. "Kemungkinan seluruh komputer di Dirjen Kominfo akan diinstalasi aplikasi IGOS," ujar Tikno. Tikno mengakui tak ada perjanjian tertulis soal instalasi aplikasi IGOS tersebut. Walau begitu, ia yakin 15 unit komputer yang telah diinstalasi tersebut merupakan langkah awal pengimplementasian IGOS di pemerintah.Mengenai kerjasama yang dijalani dengan Microsoft, Tikno menjelaskan bahwa pemerintah bersikap memberikan kesempatan keduanya (proprietiary software dan open source,-red.) tanpa mendiskriminasikan pihak manapun. "Kita tinggal tunggu saja, kalau memang kita kalah berarti ini masalah kita, bukan pihak lain," demikian Tikno menetralisir masalah seraya menutup pembicaraan. (amz/wsh)
(wsh/)