Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
'Istilah TI Bahasa Indonesia Perlu Sosialisasi'

'Istilah TI Bahasa Indonesia Perlu Sosialisasi'


- detikInet

Jakarta - Bagi pengusaha software lokal, pemakaian bahasa Indonesia baku untuk software dan istilah-istilah teknologi informasi (TI) lainnya, dinilai kurang sosialisasi. Indra Sosrodjojo, Direktur PT Andal Software mengatakan hal tersebut saat dihubungi detikinet, Jumat (6/1/2006). Indra mengomentari langkah Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional yang mengeluarkan istilah baku untuk terminologi dalam TI. Menurutnya, selain membakukan istilah-istilah teknologi informasi (TI), pusat bahasa harusnya melakukan sosialisasi. "Saya mengusulkan, lembaga bahasa jika sudah membakukan istilah-istilah TI harusnya juga melakukan sosialisasi," kata Indra. "Selama ini mereka mengeluarkan bahasa bakunya tapi tidak disosialisasikan," imbuhnya.Istilah-istilah TI yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia baku itu, menurut Indra malah menimbulkan kebingungan. Itu terjadi karena istilah-istilah tersebut kurang dikenal masyarakat.Istilah-istilah TI yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dapat dilihat di Language Interface Pack (LIP) bahasa Indonesia yang dipakai di sistem operasi Microsoft Windows XP. Ada banyak istilah yang memang asing didengar seperti tetikus (mouse), borang (form), kandar (drive), wisaya (wizard) dan lain sebagainya. Padanan kata untuk istilah-istilah tersebut dikeluarkan oleh Pusat Bahasa.Menurut Indra, pihaknya selama ini memang membuatkan manual berbahasa Indonesia untuk software yang diproduksinya. Namun, bahasa yang digunakan memang bukan bahasa baku, melainkan bahasa yang digunakan sehari-hari. "Kita lihat berdasarkan pasarnya. Untuk aplikasi-aplikasi yang ditujukan untuk pasar menengah ke atas, kita pakai bahasa Inggris. Tapi untuk pasar bawah, seperti dalam produk 'Saudagar', kita pakai bahasa Indonesia," papar Indra. "Tapi bahasanya adalah yang dipakai sehari-hari. Kalau ada istilah yang sulit dicari padanannya, kita biarkan dalam bahasa aslinya," imbuhnya.Menurutnya buku manual harusnya tidak membuat bingung. "Jadi terminologi yang digunakan harusnya menghindari kerancuan. Kalau buku manual malah membingungkan, buat apa?" ujarnya.Aturannya Jangan Setengah-SetengahDjarot Subiantoro, wakil presiden direktur perusahaan software lokal PT Sigma Cipta Caraka berpendapat, jika memang ada keharusan untuk membuat buku manual software dalam bahasa Indonesia, harusnya ada peraturan yang mengatur secara keseluruhan, end-to-end. "Jangan setengah-setengah, akan membingungkan bagi industri," kata Djarot. "Seperti dulu, pernah ada aturan bahwa PC (personal computer-red) harus pakai bahasa Indonesia, tapi kemudian tidak ada kelanjutan. Akhirnya aturan itu malah jadi persyaratan saja, sehingga pengerjaannya asal-asalan. Hanya jadi alat bagi aparat untuk menyalahkan," paparnya. Djarot mengatakan, selama ini pihaknya membuat buku manual dalam dua bahasa. "Untuk user manual kita pakai bahasa Indonesia. Tapi untuk technical manual kita pakai bahasa Inggris," papar Djarot. "Bahasanya kita pilih yang banyak dimengerti orang, supaya memudahkan," imbuhnya.Jika mengikuti konsep keutuhan, idealnya buku manual memang perlu dibuat dalam bahasa Indonesia. "Bikin buku manual itu tidak mudah. Dalam satu bahasa saja belum tentu lengkap, apalagi kalau harus dua bahasa," ujar Djarot.Kalau melihat kebutuhan pasar, Djarot mengatakan bahwa pengguna sistem yang kompleks pada umumnya tidak kesulitan dengan buku manual berbahasa Inggris. Selain itu, pemakaian bahasa Inggris untuk buku manual juga memudahkan saat mereka menjual software ke luar negeri. (nks/)







Hide Ads
LIVE