Blogger Kampanye 'Bebaskan Herman!'
- detikInet
Jakarta -
Kasus yang menimpa blogger Herman Saksono memancing reaksi penulis blog lainnya. Kampanye mendukung kebebasan berpendapat, dan pembebasan Herman Saksono, pun mulai digelar. Herman Saksono diperiksa Kepolisian Yogyakarta karena menampilkan hasil olahan foto digitalnya yang menampilkan wajah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan seorang pria yang mirip Bambang Trihatmodjo. Herman mengaku mengolah foto itu dari foto 'Mayang Sari-Bambang Trihatmodjo' yang sempat ramai beredar di internet. Salah satu blogger yang bereaksi adalah Wahyu Wijanarko. Lewat blog Wahyu.com, pria yang mengaku berteman dengan Herman ini, menuliskan dukungan pada kebebasan berbicara di Indonesia. "Teman saya, Herman Saksono ditangkap dan diselidiki oleh Kepolisian, karena membuat mockup foto Presiden RI SBY, dan menampilkannya di blog. Saya kira hal ini tak akan menjadi masalah seandainya kami tinggal di negeri seperti Amerika Serikat. Saya bukan politisi, tapi sebagai orang Indonesia, saya ingin mengatakan: Indonesia adalah negara demokratis, dan kami sangat mendukung kebebasan berbicara. Bebaskan Herman Saksono!" tulis Wahyu dalam tulisan berjudul 'Support Freedom of Speech in Indonesia'. Demikian dikutip dari tulisan asli berbahasa Inggris, oleh detikinet, Senin (12/12/2005). Priyadi, blogger Indonesia yang cukup terkemuka, pun ikut menyampaikan pendapatnya. "Jika Herman bisa diusut hanya karena senda guraunya, lalu bagaimana dengan media massa yang saya lihat tidak jarang menampilkan karikatur presiden maupun tokoh lain dengan pesan-pesan politis yang tentunya lebih daripada sekedar sebuah senda gurau?" tulis Priyadi dalam blog-nya. Tika, blogger lain yang juga rekan kerja Herman Saksono, menuliskan kronologi 'pencidukan' Herman dalam blog-nya. "Negara ini butuh banyak orang kayak Momon (panggilan akrab Herman-red). Kebebasan berpendapat warga negaranya dipecundangi gitu aja.." tulis Tika. Pengelola blog Neofreko.com juga membuat pernyataan mendukung kebebasan berpendapat. "Bener-bener heran, kenapa coba me-retouch foto dianggap penghinaan Presiden? IMO (in my opinion-red), kalau orang mau mikir, gambar-gamar retouch itu adalah pembuktian pendapatnya, yaitu bahwa foto mayangsari yang sempat heboh kemarin itu adalah rekayasa," sebut pernyataan pribadi itu.Paydjo, blogger lain, berharap aparat Kepolisian bisa menyikapi hal ini dengan bijaksan. "Moga aja para aparat bisa bersikap bijaksana dan mengambil hikmah dari kasus ini. Tidak hanya melihat dari satu sisi saja," tulisnya dalam blog Paydjo.net. "Orang demo saja boleh nulis apapun bahkan membakar foto seseorang atau pejabat, masa karena sedikit kreatif untuk membuktikan bahwa foto-foto Mayang Sari yang beredar bisa saja palsu terus main tangkep aja?" tukas blogger lain bernama Aris.Lain lagi pendapat Achmadi, alias Didik. Lewat tulisan berjudul 'Herman Dicokok Polisi?' Achmadi menuturkan bahwa retouch seperti yang dilakukan Herman pernah juga menimpa dirinya. Ia pun mengaku bersimpati pada Herman. "Meskipun saya tidak mengenal Herman Saksono secara pribadi, namun saya salut dengan tulisan-tulisannya. Tulisan ini tidak ditujukan untuk memberikan sentimen negatif kepada polri, hanya dukungan positif terhadap Herman, kebebasan berekspresi di media Internet serta dukungan untuk menyempurnakan sistem perundang-undangan yang mencakup area dunia maya," tulis Didik. (Anda Pro atau Kontra? Sampaikan pendapat Anda lewat e-mail redaksi@detikinet.com)
(wsh/)